blank

Kitab kedua Mahabarata yang berjudul Sabhaparwa ada cerita menarik. Di situ diceritakan bagaimana Duryudana dengan dibantu Sengkuni bisa mengalahkan Yudistira di meja judi. Bahkan, di puncak kekalahannya Yudistira sampai mengajukan istrinya Drupadi sebagai taruhan. Ini kekalahan telak. Setelah harta, prajurit, istana, raib di meja judi. Istri pun akhirnya menjadi korban.

Tapi, Drupadi tidak mau memenuhi permintaan Yudistira. Maka dari itu, Duryudana menyuruh Dursasana untuk memanggil Drupadi ke meja judi. Diseretlah secara paksa rambut Drupadi hingga ia bisa sampai di tempat perjudian. Lalu di meja judi itu Dursasana berniat menelanjangi Drupadi. Berkat pertolongan Dewa Kresna. Kain yang menyelimuti Drupadi tidak pernah habis ditarik Dursasana. Mengetahui perlilaku asusila Dursasana kepada Drupadi. Bima bersumpah akan merobek dada Dursasana dan meminum darahnya. Setelah mengucapkan sumpah ini terdengarlah lolongan anjing dan serigala.

Drestarastra mengetahui kejadian buruk akan menimpa keluarganya. Dipanggilah Pandawa dan Drupadi. Drestarastra mengampuni Pandawa dan mengembalikan semua hartanya yang raib akibat kalah judi. Duryudana tidak terima dengan kabar ini. Ia menantang judi Yudistira untuk kedua kalinya. Dengan taruhan yang lebih berat. Bahwa siapa yang kalah maka mereka harus mengasingkan diri ke hutan selama dua belas tahun dan satu tahun menyamar baru setelah itu boleh kembali ke hutan. Yudistira tidak menolak tantangan itu. Dan, seperti yang kita ketahui. Pandawa kalah. Mereka pun mesti mengasingkan diri ke hutan. Inilah yang menjadi inti cerita Sabhaparwa. Pandawa terusir secara halus dari istana setelah kalah di meja judi. Mereka berpindah tempat tinggal dari istana ke hutan, selama belasan tahun.

Sedulur jamaah Gambang Syafaat,

Pada edisi kali ini kita akan berjumpa dengan tema ”NeoSabhaparwa”. Kita semua tahu pada bulan Agustus banyak kejadian yang menjadi perhatian nasional. Sampai-sampai kita bingung mencari yang paling penting diantara semuanya. Awal Agustus kita dibuat deg-degan pengumuman calon wakil presiden. Lalu dilanjutkan keramaian adu komentar orang-orang yang bertarung, berebutan, sikut-sikutan membela jagoannya menuju istana.

Menjelang pertengahan bulan, obrolan kita berbelok sedikit dari politik meski pada akhirnya juga dipolitisir: soal bocah yang memanjat tiang bendera upacara buat membenarkan tali yang mbulet. Bulan kemerdekaan pun memberikan banyak rezeki bagi si bocah itu. Bantuan datang silih berganti, mulai dari pejabat tingkat kelurahan sampai presiden. Sungguh, bagi si bocah ini bulan kemerdekaan yang penuh berkah. Aksi memanjatnya itu sungguh heroik. Meski di satu sisi justru menunjukkan ironi terhadap kesembronoan panitia yang tidak becus memeriksa peralatan upacara. Di tempat itu, kemerdekaan terdapat ketelodoran terselubung panitia dan aksi nyata spontanitas si bocah.

Kita bisa belajar dari aksi spontanitas si bocah itu. Ia bisa menjadi orang merdeka dan bebas membantu kendala teknis yang terjadi. Berkat kepekaan yang tinggi. Tanpa menunggu perintah. Ia seketika memanjat tiang bambu itu. Tidak ada yang secara serius menghentikannya. Atau menghentikan dengan alasan mencegah kejadian buruk terjadi. Jatuh dari tiang itu misalnya. Seolah-olah semua memaklumi dan menyilakan aksi yang sebetulnya berbahaya itu. Seolah dalam hati, semua bergumam,”namanya juga anak-anak.” Sehingga apa pun yang dilakukan anak-anak, kita membolehkannya. Karena kita meyakini dunia anak-anak adalah dunia bebas melakukan apa pun karena mereka belum mengetahui kebaikan dan keburukan dari yang mereka lakukan. Maka dalam hal ini orangtua berperan menjadi batas, pembatas, membatasi perilaku-perilaku anak yang menyimpamg dari kewajaran umum.

Merdeka sering diartikan bebas. Lebih fatal lagi, bebas ditafsirkan tanpa batas. Kemerdekaan pun pelan-pelan dimaknai secara ngawur, kebebasan tanpa batas. Kita menjadi tidak tahu hakikat kemerdekaan. Mbah Nun pernah berucap, jauh di dalam kemerdekaan yang kita temukan justru batas. Karena kita sebagai manusia mesti mengenal diri bahwa tidak semua bisa kita lakukan dan terabas. ”dadio menuso dihisik,” kata Mbah Nun berungkali. Kalau kita bersepakat dengan pemikiran Mbah Nun. Kita bisa menyandingkan kata ”manusia” dengan ”merdeka”. Lalu kita ubah menjadi satu kalimat tanya:”Apa itu manusia merdeka?” Apakah manusia yang selalu mengartikan kemerdekaan itu kebebasan dan kebebasan mesti tanpa batas. Sehingga tanpa sadar kita justru menjadi korban dari kebebasan itu sendiri. Atau malah kita menjadi apa yang dipikirkan Mbah Nun. Bahwa manusia merdeka adalah manusia yang sadar pada batas-batas yang ia ketahui.

Seumpama kita seorang bocah atau anak, orangtua selalu menjadi pihak yang menyadarkan batas-batas kita. Kalau kita menjadi raja, rakyatlah yang seharusnya menjadi pihak yang menyadarkan batas-batas kita. Sayangnya, kita sekarang hidup di era hampir semua orang memahami kebebasan itu tanpa batas dan tidak sadar pada batas-batas yang melingkupi hidup kita. Kita juga tidak memiliki panutan yang kita jadikan rujukan untuk menyadarkan batas-batas kita.

Sabhaparwa barangkali contoh bijak ketika kita tidak tahu batas dan tidak ada orang yang menyadarkan batas-batas kita. Kita bisa beralih dari istana ke hutan. Dan tragisnya, orang-orang bijak pun bisa takluk di hadapan orang licik.