Saya membayangkan puasa ini seperti berada di neraka saja. Panas terik khas khatulistiwa memang belum seberapa dibandingkan di padang pasir, asal Islam diturunkan secara formal. Tapi sinar matahari yang entah kenapa terasa lebih menyiksa dari hari-hari biasa itu diimajinasikan oleh benakku sebagai neraka. Jelang Jumatan misalnya, seolah peci tak mampu halangi siksaan makhluk yang jika lebih atau kurang jaraknya sejengkal dari Bumi bisa berakibat fatal.

Lain jika neraka dianggap sebagai pengalaman puncak puasa. Dibandingkan di sana, dunia tentu lebih “weleh-weleh” dalam artian belum seberapa. Mbah Gus Mus ibaratkan dunia ini sebesar kacang hijau, neraka bisa jadi sebesar Gunung Merapi. Perbandingan yang bisa buat bibir menyunggi senyum sekaligus kerutkan nyali.

Puasa bisa menjebak saya dalam lingkaran setan. Waktu Sahur sampai Magrib diisi dengan ibadah non-stop bersifat menahan, eh, begitu azan berkumandang, langsung dijebol. Tsunami pemuasan nafsu menggulung apa saja. Tak terkecuali apa yang dihindari di siang hari dengan hati-hati. Ini yang saya khawatirkan, sia-sia saja dengan hasil impas. Ngeri kalau sampai minus.

Lho, Saya ini Kambing?!

Itulah kenapa sedari beberapa bulan jelang puasa saya mulai program melatih kemanusiaan. Sedikit mengurangi makan, tidur, dan tentu saja maksiat. Tetap tidak bisa seratus persen, tapi setidaknya mencoba. Hasilnya ketika hari puasa pertama dimulai, tidak ada halangan berarti. Bahkan tidak terasa bedanya dengan hari-hari biasa. Alah bisa karena biasa, kata peribahasa.

Proses di atas adalah salahsatu cara pencarian presisi batas diri manusia. Agar tidak kaget, kagum, dan akhirnya reaksi spontannya sangat memalukan atau membingungkan. Begitu tahu batasan, yang seharusnya dilakukan adalah berusaha tidak melampauinya. Anggaplah saya ini seperti kambing yang tidak berani keluar dari pagar atau pantauan penggembala. Kesadaran akan pengawasan pihak kedua memang penting, hanya saja akan lebih permanen jika itu muncul dari dalam diri.

Ketika batasan sudah ditemui, paham bahwa saya adalah seekor kambing, kekuatiran tak kenal diri sendiri bisa sedikit pudar. Begitu paham sangkan paran, langkah selanjutnya adalah ikuti jalan yang sudah digariskan Tuhan. Sudah tahu saya tak kuat berdiri lama, pilihannya hanya dua: nekat berdiri berakibat ambruk, atau pilih duduk begitu dirasa batas sudah tercapai. Latihan cari kadar tepi akan munculkan kepekaan pada hal yang nampak sepele tapi memegang peranan penting.

Slilit Si Kambing

Ujungnya, begitu tahu bahwa saya senasib dengan kambing yang lampaui batas adalah hadirnya perasaan bersalah. Semakin belingsatan begitu tahu telah langgar aturan main yang digariskan Tuhan maupun tuntunan yang ditunjukkan Kanjeng Nabi. Merasa tidak berjalan di jalan kebenaran membuat hati was-was dimatikan dalam keadaan Suul Khotimal. Waspada agar tak bernasib seperti seorang kiai yang dicemplungkan ke dalam neraka hanya karena tidak sengaja buang “slilit” dengan potongan bambu milik tetangga, tanpa ijin pula.

Itulah betapa pentingnya tidak mempercayai informasi permukaan bagi saya. Rugi jika percayakan cerminan diri pada hal-hal yang bisa jadi belum bisa berkaca juga. Inilah fungsi mengkoleksi sumber refleksi. Check and balance kebenaran. Demi hindarkan diri dari kecenderungan fanatik pada satu versi kebenaran. Dicap kutu loncat pun tak jadi soal karena toh yang dicari adalah benang merah dari informasi yang berseliweran. Bayangkan betapa ngerinya jika saya yang seekor kambing percaya pada penggembala yang berkata bahwa saya adalah serigala berbulu kambing.

Maka saya nyaman mendaku diri sebagai kambing. Tidak butuh berlagak seperti orang pandai yang berebut pengakuan. Biarlah saya dikatakan bodoh karena memang penguasaan pengetahuan saya masih berupa butiran debu. Tak sakit hati kalau saya dituding “culun” karena memang kadar pengalaman saya masih “cupet”. Oleh karena itu yang saya lakukan adalah terus belajar tanpa henti. Mengaku diri hebat apalagi sampai rendahkan oranglain sama nasibnya dengan kambing yang berlagak serigala di depan penggembala. Bukan ditakuti, malah digiring ke lokasi penyembelihan.

Si Kambing Matre, Sembelih Aje!

Berbaik sangka pada oranglain memang perlu. Tapi persiapkan komentar “ternyata materialisme juga” wajib dilakukan. Ini untuk munculkan maklum pada situasi dan kondisi yang telah, tengah, dan bakal ditemui. Lagi-lagi untuk cegah baper dan mendendam sia-sia. Sudah tahu kambing ikhlas dikorbankan, eh, ternyata si jagal lakukan itu biar dicap macho, si penggembala dianggap sukses kali lipatkan keuntungan, dan si juragan disangka saleh dan dermawan. Sebagai kambing, dalam keseharian saya harus siap dengan sekian banyak prasangka semacam itu untuk menjaga diri dan keluarga dari mati konyol.

Apesnya, si kambing ditakdirkan Tuhan tinggal di peradaban miring. Sudah ikhlas makan rumput, digiring ke sana-sini, eh, jadi tumbal yang bukan untuk Allah. Jadilah mati dalam kondisi setengah atau malah sepenuhnya misuh. Memang niat menentukan nilai, bahkan diterima tidaknya sebuah amalan. Hanya saja untuk sampai kesadaran itu, si kambing butuh lebih dari sekadar perenungan. Mati yang radikal, diskenario langit untuk temui ajal dengan tanpa diberi hak penolakan. Apes? Mau bagaimana lagi?

Memang lebih baik berada dalam posisi si kambing yang lugu. Nasib menuntunnya menjadi bahan ujian bagi manusia-manusia penghancur. Terkesan menyedihkan, tapi Tuhan berkehendak demikian bagi entah berapa juta bahkan miliaran kambing lain. Digerakkan menuju rumah jagal untuk penuhi tandon kepuasan yang tanpa batas dan bernilai sangat duniawi. Jangankan keterlibatan Tuhan, peran pemelihara pun tidak dilaksanakan. Jika suatu saat kambing punah karena tidak dilakukan pembibitan berkelanjutan, manusia penghancur tempatkan dirinya sebagai penyebab kiamat skala kecil-kecilan.

Gawat jika pemersatuan seisi dunia kambing dengan kebutaan pada standar kebenaran, keadilan, bahkan kewarasan melalui agama globalisasi. Apa yang menjijikkan di masa silam justru dipuji-puja era kekinian. Di peradaban miring, jangankan presisi, ia berputar dalam lingkaran setan saja tidak sadar. Sudah jadi manusia penghancur tanpa rasa bersalah, berbekal informasi permukaan makanya tak kenal diri sendiri.

Sungguh, tak ada ruginya melatih kemanusian sedari sekarang. Jangan sampai seperti kambing yang betah di neraka. Tahu bahwa itulah satu-satunya cara ia sanggup jalani puasa. Setidaknya ia sudah tidak lagi jadi orang pintar berebut pengakuan lantaran sadar bahwa apapun yang ada di dunia, terdengar dan terlihat sesuci apapun ia, bisa jadi ternyata materialisme juga. Bukan lagi agama-agama dengan penundukan diri pada titah Tuhan melainkan agama globalisasi yang jadikan laba sebagai tujuan.

BERBAGI
Ihda Ahmad Soduwuh
Jamaah Maiyah yang berdomisili di Semarang dan berkeseharian dengan membaca buku, merangkum, dan menuliskannya kembali.