Waktu memang begitu cepat berlalu, tidak terasa padahal baru kemarin bergembira dipertemukan dengan Mbah Nun dan para jamaah Maiyah di forum Gambang Syafaat edisi Februari, malam ini alhamdulillah dipertemukan lagi dengan jamaah Maiyah di forum yang sama. Semoga bekal ilmu dan khasanah dari Mbah Nun kemarin tidak hilang begitu saja dan terus bermanfaat selamanya.

Di sore hari wilayah kota Semarang habis diguyur hujan, menjelang Maghrib pun hujan kembali turun. Namun, hal itu tidak menjadikan penghalang para penggiat untuk bekerja sama mempersiapkan segala sesuatunya untuk forum yang rutin dilaksanakan setiap bulannya ini di forum Gambang Syafaat (25/3). Para jamaah Maiyah juga tidak ingin melewatkan acaranya. Rasa rindunya Maiyahan ingin segera mereka obati di Maiyah. Di tempat inilah kita bisa sinau bareng, tidak mempertentangkan pendapat orang satu dengan yang lainnya. Disinilah tempat membangun menjadi manusia sebenarnya dan juga berdiskusi bersama.

Di forum Gambang Syafaat memang menjadi tempat bertemunya orang Maiyah di wilayah Semarang dan sekitarnya. Tidak ada yang menyuruh dan memaksa untuk nyekuyung atau hadir di forum ini. Semua bisa berjalan atas dasar rasa cinta kita dengan yang lainya dan juga rasa cinta kepada Allah dan Rasulallah Saw. Tentu dengan  keikhlasan hati sendiri. Hadirin hanya melingkar di ruang terbuka, tidak berada di dalam ruangan ataupun gedung ber-AC, bukan seperti seminar-seminar di kantor. Namun, tetap belajar bersama untuk sinau bareng.

Selepas Mahgrib seluruh karpet sudah tertata dengan rapi. Pukul 20:00 WIB seperti biasanya para penggiat Gambang Syafaat memulai dengan membaca Surat Yasin dan ber-Munajat Maiyah bersama-sama hingga berdiri bersama melantunkan shalawat Indal Qiyam. Para jamaah pun mulai berdatangan langsung menempatkan posisi duduknya masing-masing. Sebelum membahas mengenai tema “Generasi Empu, sebagai jeda di awal acara disambut grup musik You Wis Band dari Maiyah Kalijagan dengan lagu Ya Habibi Qolby, lagu shalawatan yang lagi ngtrend saat ini.

Om Jion selain mempimpin ber-Munajat Maiyah tadi juga meminta Mas Yunan turut bergabung diatas panggung sebagai moderator untuk memaparkan prolog Gambang Syafaat edisi Maret. Terkait orang yang meramalkan negara Indonesia akan bubar tahun 2030, Mas Yunan menyampaikan bahwa orang yang meramal Indonesia tahun 2030 akan bubar adalah generasi orang yang tidak mau ber-Maiyah. Di temani Gus Aniq di sesi awal langsung memaparkan bahwa generasi empu adalah generasi berdaulat, yang kedaulatan manusia itu tidak bisa lepas dari Allah. Manusia itu pusat semesta, artinya manusia dititipkan Asma-asma Allah, yang kemudian mempunyai keturunan salah satu empunya.

Foto: Labib (Dok. GS) | Komp. Masjid Baiturrahman, Simpanglima, Semarang | 25 Maret 2018

Kita pertama mengenal kata empu ialah orang yang pekerjaan membuat keris. Generasi empu itu sudah ada sejak zaman peradaban Nabi Daud, bahkan semenjak negara Belanda datang ke negara Indonesia sudah ada generasi empu. Zaman peradaban Nabi Nuh juga Nabi Daud secara periodik menyontohkan peradaban kita, kejadian zaman sekarang adalah bentuk lain dari kejadian zaman dahulu. Di zaman sekaranglah kita harus banyak belajar kepada generasi empu.

Negara itu harus belajar kepada generasi empu yang ada di desa-desa saat ini, bukannya desa belajar kepada negara. Deso mowo coro, negoro mowo toto. Istilah ini jangan pernah hilang begitu saja, karena dari desa kita bisa membangun suatu negara untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran. Di tengah kekhusyukan menyimak yang disampaikan Gus Aniq, kita juga dihibur lagi oleh grub musik Duo You Wis Band dari Maiyah Kalijagan kembali dengan membawakan lagu Ya Asyiqol Mustofa.

Kemudian Pak Eko Tunas dan Pak Ilyas dipersilahkan hadir menemani para jamaah. Pak Eko Tunas setelah hadir di atas panggung malah tidak ingin duduk, begitu duduk sebentar beliau langsung berdiri menyapa jamaah yang sedang duduk. Beliau sampai membawa microphone mengelilingi para jamaah yang hadir malam itu. Pak Eko Tunas  menyampaikan paparannya sambil berdiri dihadapan para jamaah. Awal mula dari beliau mengemukakan tentang pakar sama ahli itu berbeda, pakar bisa di bidang pendidikan dan pekerjaan, sedangkan kalau ahli bisa di bidang sosial. Setiap empu, pakar, dan ahli itu punya lelaku dan ilmu. Pada zaman abad 9, orang Jawa telah menemukan besi mulia yang disebut tosakaji serta keris adalah benda budaya hasil pengolahan dari besi mulia. Dalam hadist Nabi, beliau menceritakan bahwa segala sesuatu yang tidak diberikan kepada para ahlinya akan rusak selamanya. Karena zaman sekarang memang sulit menjadi manusia apalagi jadi empu.

Malam itu kita juga dihibur oleh Mas Wakijo dengan suaranya yang khas. Setelah mas Wakijo mempersembahkan sebuah lagu pertamanya, Mbah Tejo dipersilahkan hadir di atas panggung dengan diiringi oleh Mas Wakijo dengan lagu Titi Kolo Mongso untuk menyambut Mbah Tejo. Sedikit dari Pak Ilyas menyampaikan bahwa sebagian manusia saat ini sudah menyembah berhala, menyembah berhala dewasa ini bisa dianalogikan menyembah uang, jabatan, dan kekuasaan. Bisa jadi zaman sekarang ini zaman modern jahiliyah.

Setelah sedikit apa yang disampaikan Pak Ilyas lalu dilanjutkan oleh Mbah Tejo.

Foto: Labib (Dok. GS) | Komp. Masjid Baiturrahman, Simpanglima, Semarang | 25 Maret 2018

Dalam kesempatan hadir di Gambang Syafaat malam itu hanya sedikit menambahi. Nikmati saja perjalanannya, bukan panennya. Kalau ngomong wujud, ya tan kinoyo ngopo, tan keno kiniro. Kalau kamu mengandalkan pengetahuan sampai ke sana, kamu akan kehilangan kenikmatan dari ketidaktahuan. Padahal dalam beberapa hal, tidak tahu itu sangat penting. Jalani saja. Di Maiyah itu nguri-nguri budaya dan agama, orang Jawa itu komplit, ada senang, susah, juga ada bahagia dan sedih itu jadi nyawiji. Lalu Mbah Tejo mempersembahkan sebuah lagu yang berjudul “Pada Sebuah Ranjang” untuk menghangatkan suasana Gambang Syafaat pada malam itu.

Hingga pukul 01:30 WIB para jamaah masih tetap bertahan dan menyimak, lalu kembali Pak Eko Tunas menambahkan. Jangan percaya dengan pikiranmu, tapi percayalah kepada rasamu, karena rasamu pasti ada Allah. Manusia diberi rasa sedih, senang, susah, takut, bahagia dan sebagainya. Cukup percaya saja bahwa rasa itu ada dan rasa akan tumbuh sesuai pada waktunya. Jangan pernah berpikir kepada keberadaan Allah, tapi berpikirlah kepada manifestasi Allah. Karena hidup di dunia memang kebanyakan tidak sesuai dengan apa yang kita angan-angankan.

Tepat pukul 02:00 WIB forum Gambang Gambang Syafaat ditutup dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh Gus Aniq. Kemudian dilanjut bersalaman. (Galih Indra Pratama).