Bayangkan. Ada sebuah pesawat terbang sedang mengalami turbulensi hebat. Badan pesawat terombang-ambing diketinggian. Seluruh awak pesawat mendadak panik, tegang, dan super ketakutan. Sang juru kemudi (pilot & co. pilot) bersikeras mencoba segala cara agar pesawat tidak jatuh. Atau minimal dapat mendarat darurat. Para pramugari pun dengan gugup sigap menginstruksikan kepada seluruh penumpang agar tetap tenang. Terus berdoa dan segera mengenakan pelampungnya. Keadaan dalam pesawat sangat mencekam. Airmata jatuh. Mulut menjerit. Badan gemetar. Antara hidup dan mati. Nyawa diujung tanduk. Tidak ada lain yang dapat dilakukan selain merapal doa-doa. Memohon keselamatan kepada Yang Kuasa.

Allahu-Akbar
Allahu-Akbar
La ilaha illallah La ilaha illallah
La haula wa la quata ilabillah

Dalam kondisi genting, terjepit, dan bahaya, siapa pun orangnya, maka yang spontan keluar dari mulut adalah Asma Allah. Itu sudah fitrah manusia. Otomatis muncul. Refleks. Tanpa disuruh. Tanpa direncana. Sebab manusia sadar, hanya Tuhan-lah yang mampu mendengarnya, hanya Allah yang sanggup menolongnya.

Sampai di sini, kita sudah bisa memetik hikmah. Bahwa kita manusia sungguh amat lemah. Kerdil tak berdaya. Yang kuat dan hebat hanya Allah. Tidak ada kekuatan dan daya upaya selain datangnya dari Allah Swt. Di saat manusia berada di ujung ketakutan, ketika ancaman kematian ada di depan mata, maka tidak ada cara lain yang dapat ditempuh selain berdoa. Dengan harapan Allah Swt berkenan menyelamatkan-Nya. Begitulah fitrah manusia.

**

Kembali ke kisah Pesawat. Atas perkenan Allah, akhirnya pesawat yang alami turbulensi tersebut berhasil mendarat darurat. Menceburkan diri pada aliran sungai yang cukup dalam. Setelah dilakukan evakuasi oleh Tim SAR dan warga sekitar, Alhamdulillah tidak ada satu pun korban jiwa. Hanya beberapa penumpang yang menderita luka ringan.

Pertanyaannya, apa dan siapa yang membuat pesawat tersebut berhasil mendarat darurat. Tidak jatuh dan meledak. Tidak jadi memakan korban. Simpel jawabannya : itu takdir. Siapa yang menakdirkan itu, ya Tuhan. Siapa lagi? Benar itu takdir, dan tidak salah kalau yang menakdirkan itu Tuhan. Namun, bukankah itu seperti jawaban anak SD. Masak kita yang sudah gede, pinter, terpelajar, seorang sarjana, ahli, dan mumpuni juga ikut menjawab jawaban yang demikian. Tidak etis kan…

Kalau diri kita mengaku orang terpelajar dan berilmu, ya kita mesti berpikir panjang. Mau mengamati, mengolah, meneliti, dan mencari data-data untuk menemukan jawabannya. Mari kita analisis bersama.

Pesawat tersebut berhasil mendarat darurat dan tidak meledak, paling tidak disebabkan oleh dua faktor. Faktor teknis dan non teknis.

Teknisnya, bisa saja sang pilot dan rekannya mampu mengoperasikan mesin kendali pesawat untuk meredam turbulensi. Hingga kemudian, dengan gerak cepat berhasil mengarahkan pesawat ke tempat yang cukup aman untuk mendarat darurat. Yakni pada aliran sungai. Ini hanya analisa. Bukan fakta. Sebatas perkiraan yang dinalar menggunakan akal, rasio, dan logika manusia. Bisa salah, bisa benar. Namun, paling tidak mendekati dengan fakta yang terjadi.

Sedangkan faktor non teknis adalah hal yang tak kasat mata. Sesuatu yang tidak dapat disaksikan dengan mata telanjang. Tak terjangkau lewat ilmu pengetahuan. Di luar batas, nalar, dan kapasitas manusia. Dan satu-satunya alat untuk meyakininya yakni iman. Percaya bahwa takdir ialah kuasa Tuhan. Hak prerogatif Sang Pencipta.

Kalau di awal dikatakan bahwa yang sanggup menakdirkan sesuatu adalah Tuhan, maka itu benar adanya. Namun, yang namanya takdir itu dapat diubah. Khususnya takdir buruk.
Menurut Mbah Nun, takdir buruk itu dapat diubah, ditawar, dan dinegosiasikan dengan Allah melalui dua cara : sedekah dan doa.

Mungkin saja, pesawat tersebut selamat dari malapetaka dikarenakan doa. Doa dari salah satu penumpang yang dikabulkan oleh Allah Swt. Kenapa doa orang itu yang dikabulkan? Banyak alasan-nya. Mungkin saja orang tersebut hamba Allah yang alim. Yang tulus berdoa, pasrah atas semua takdir Tuhan. Sehingga hal itu membuat Gusti Allah trenyuh. Tersentuh. Tidak tega kalau tidak mengabulkan doa hamba alim tersebut. Allah tidak rela melihat hamba yang dikasihi-Nya tersebut sakit dan terluka. Maka diselamatkanlah pesawat beserta seluruh penumpang yang ada di dalamnya. Doa sungguh-sungguh mampu mengubah takdir buruk menjadi baik.

Tentu kita yang menyaksikan peristiwa pesawat mendarat darurat itu tidak tahu. Doa penumpang mana yang di ijabah oleh Allah. Kita yakin dan anggap saja semua orang yang berada dalam pesawat berdoa. Namun bisa jadi hanya doa satu orang yang dikabulkan. Satu doa yang dikabulkan tetapi mampu menyelamatkan semua. Betapa ampuh kekuatan doa itu. Dan juga betapa misterinya akibat/ dampak dari terkabulnya doa.

Dari sini, kita dapat mengais hikmah kembali. Bahwa kekuatan doa sangat luar biasa. Dengan kita hobi berdoa (tentu doa yang berisikan kebaikan), harapan-nya seluruh kehidupan kita akan diguyuri keberkahan dan keselamatan oleh Allah Taala.

***

Negeri yang sedang turbulensi

Berkaca dari kisah pesawat di atas, bukankah negeri kita saat ini juga tengah alami turbulensi. Pesawat besar yang bernama Indonesia tengah goyang oleh isu SARA, intoleransi, kebangkitan PKI, radikalisme, persekusi, perang hestek, dll.

Pesawat Indonesia juga tak henti-hentinya diguncang oleh aksi teror bom. Yang menyasar rumah ibadah, markas polisi dan ruang-ruang publik. Dan kini seluruh ‘awak’ pesawat Indonesia juga sudah mulai berseteru. Perang hestek menjelang gelaran Pilkada 2018 dan Pilpres 2019. Nyinyiran, cibiran, ujaran kebencian, hoaks, fitnah, saling hujat, saling menjatuhkan, berseliweran di wajah linimasa. Sangat-sangat memprihatinkan.

Kalau kita sepakat bahwa bangsa Indonesia sekarang layaknya pesawat terbang yang sedang mengalami turbulensi. Maka sama persis, cara kita untuk menyelamatkan seluruh penumpang (rakyat) yang ada di dalamnya. Yakni dengan cara teknis dan non teknis. Teknisnya, melalui tindakan-tindakan positif nyata (sesuai profesi dan kemampuan). Melakukan segala bentuk upaya preventif untuk meredam berbagai konflik, perseteruan, perselisihan, kesenjangan, teror dan kejahatan-kejahatan lainnya. Baik di dunia maya maupun nyata. Dan, setia menjadi corong untuk menyebarluaskan pesan damai, sikap toleransi, empati, Islam Rahmah, serta mengimplementasikan ruh Bhinneka Tunggal Ika kepada siapa pun, kapan pun dan di mana pun.

Tak lupa, segala tindakan dan upaya-upaya tersebut hendaknya selalu diiringi dengan doa-doa. Upaya dan doa-doa kebaikan itulah yang akan mengetuk pintu hati Tuhan, sehingga Tuhan berkenan untuk menyelamatkan pesawat besar yang bernama Indonesia ini dari ancaman kehancuran.

Selamat berhari raya, rayakan dengan kasih-sayang.

Gemolong, 5 Syawal 2018
Muhammadona Setiawan