Cermin adalah refleksi memantulkan sisi diri benda yang di hadapannya. Bercermin adalah cara kita mematut diri agar kita memiliki kepatutan. Cermin dianggap penting jika manusia masih membutuhkan kepatutan. Apakah kita benar-benar membutuhkan cermin, apakah kita memiliki niat untuk menjadi manusia patut. Sering diantara kita yang enggan menilik cermin. Kita mencekam, kita hindari, kita singkirkan, mengapa?

Apa yang terpantul, terlukis di cermin disebut cerminan. Ada benda-benda yang memiliki prasyarat menjadi cermin. Ia harus jernih, ia harus terkenai cahaya.

Siapakah cermin? Jika Kanjeng Nabi kita jadikan cermin maka kita akan terefleksi atas kilau cahaya Kanjeng Nabi, mengikuti, meneladani secara spontan. Jika kita bercermin kepada keserakahan maka kita juga akan berlomba-lomba merengkuh harta benda dengan segala cara.

Siapakah cermin? Ada yang mengatakan hati adalah cermin. Ia tempat cahaya Tuhan terpantul. Maka hati harus dijaga, dibersihkan, dikipas agar tiada debu yang menempel hingga cahaya Tuhan terpantul sempurna.

Siapakah cermin? Bagi pemimpin cermin adalah rakyat. Jika rakyatnya masih menderita maka kerja pemimpin belum beres, ada sesuatu yang belum terselesaikan. Perlu dicek niatan awalnya, keikhlasannya, metode, model, paradigma kepemimpinannya, keberpihaakannya kepada siapa.

Siapakah cermin? Bagi rakyat, pemimpin adalah cerminannya. Rakyat yang bodoh memilih pemimpin yang bodoh pula, ia menyerahkan mandat pada orang yang tidak seharusnya. Atau jangan-jangan haknya untuk memberi mandat ia jual dengan beberapa bungkus uang rokok.

Siapakah cermin? Bagi pembelajar pengalaman adalah cermin, hujatan, lemparan batu, ejekan, hinaan, fitnah menjadikannya semakin kuat dan tangguh. Kata Mbah Nun dalam aliran tetes: “Di dalam proses pengembangan keimanan di padang-padang perburuan rohani hidup yang penuh bahaya, ternyatalah bahwa kecurigaan maupun ketidakpercayaan orang lain terhadap diri kita adalah kaca cermin yang baik untuk memperbaiki kekurangan, menyadari kelemahan, serta menarik kembali tangan dari arah kesesatan.”

Gambang Syafaat edisi 25 Februari 2018 akan “Menimba Pada Cermin” terefleksikan oleh pantulan cahaya Rosulullah melalui lingkaran kebersamaan Maiyah.

BERBAGI
Redaksi Gambang Syafaat
Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.