Kenapa para jamaah setiap kali acara Gambang Syafaat selalu ada yang bertanya apakah Mbah Nun rawuh atau tidak?. Bahkan ada yang masih bertanya sampai berkali-kali padahal pertanyaan tersebut sudah saya jawab. Ada juga yang masih bertanya lagi saat acara berlangsung, apakah Mbah Nun rawuh?. Memang saya tahu rasanya rindu pada seseorang yang tidak pernah berhenti membimbing kita ke arah yang lebih baik dan selalu membesarkan hati kita selama ini. Saya hanya mengatakan, adanya Simbah rawuh atau tidak bukan semata-mata karena dihadirkan oleh para penggiat. Kerawuhan Simbah hanya ditentukan oleh kehendak Simbah sendiri. Apakah bisa merawuhi atau tidak hanya Simbah yang tahu. Penggiat Gambang Syafaat selalu menganggap Simbah selalu hadir baik dalam bentuk raga maupun doa.

Malam (25/10/2018) itu Majlis Masyarakat Maiyah Gambang Syafaat mengambil tema “Musim Lupa”. Dari menjelang Ashar para penggiat sudah berdatangan ke komplek Masjid Baiturrahman mempersiapkan perlengkapan keperluan acara. Tenda yang dipakai untuk stan kopi dan merchandise setiap bulan tidak mungkin berdiri sendiri. Halaman kotor juga tidak mungkin akan bersih sendiri. Karpet tidak akan tergelar sendiri. Back drop dan lampu juga tidak akan terpasang dengan sendirinya. Semua itu ada persiapan, langkah dan kebersamaannya saat bekerja sama sebelum acara Gambang Syafaat berlangsung diperlukan. Begitu juga setelah acara Gambang Syafaat selesai, semuanya juga akan kembali kerja bareng membersihkan tempat acara.

Foto: Dok. GS | Lokasi : Masjid Baiturrahman, Simpanglima, Semarang

Pada acara Gambang Syafaat kali ini diawali dengan mendaras Al Qur’an oleh salah seorang jamaah perempuan yang sedang mengandung. kemudian setelah selesai mendaras Al-Qur’an Kang Jion mengajak semua jamaah mendoakan si calon ibu semoga dilancarkan sampai saat persalinan nanti dan semoga anaknya yang lahir bermanfaat dan berbakti kepada orang tuanya.

Di sesi pembahasan mukadimah Kang Hajir ditemani Mas Asrul penggiat lama tahun 2000 dan salah pendiri Gambang Syafaatl tahun 1996. Kang Hajir menyampaikan bahwa sabar itu memang berat, karena salah satu sifat manusia yang dianjurkan oleh Allah manusia harus sabar. Dan, salah satu sifat manusia yang dimiliki setiap manusia adalah pelupa. Puncak-puncak lupa itu biasanya adalah kita sebagai mahkluk Allah tidak menyadari hal itu. Masa lupa karena kita disibukkan dengan hal-hal yang tidak jelas, seperti di media sosial saling menghujat satu sama lain.

Foto: Dok. GS | Lokasi : Masjid Baiturrahman, Simpanglima, Semarang

Suasana Gambang Syafaat malam itu terlihat di berbagai sudut dipenuhi para jamaah. Mereka duduk tersebar; ada yang di depan panggung, ada yang didekat sound dan ada yang memilih duduk paling belakang sendiri. Maiyah adalah universitas bukan fakultas, kata Mbah Nun suatu kali, karena menampung siapapun dan bisa dimasuki dari pintu mana pun. Maiyah bukanlah duduk di atas mimbar, namun duduk bersama untuk Sinau Bareng. Maiyah sudah jelas terbuka bagi siapapun. Maiyah berupaya terus menjadi ruang yang sangat besar untuk menampung siapapun dan bisa dimasuki dari segala sisi.

Posisi semua jamaah yang hadir adalah sinau bareng. Dan yang disampaikan di Maiyahan bukan diklaim satu-satunya kebenaran yang mutlak, akan tetapi bersama-sama menikmati proses mencari kebenaran yang sejati. Bisa menikmati karena di Maiyah terbangun juga atmosfer untuk saling memberi rasa aman. Mas Tri Wahyu menambahkan tujuan Maiyah adalah ya berMaiyah. Maiyah itu adalah universitas. Tujuan kita sinau bareng adalah mencari ilmu, menjalin silaturahmi, menambah saudara. Dan juga membuka wawasan dalam nuansa Maiyah. Untuk hasil mutlaknya kita serahkan kepada Allah Yang Maha Menetukkannya, yang penting kita istiqomah menjalaninya. Terkait tema Mas Tri menegaskan, Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Tapi meski lupa manusia mampu mengingatkan kelupaannya, itu sebabnya Allah yang mengingatkannya.

Soal pelajaran melupakan rakyat, penguasa adalah jagonya. Selain musim kemarau dan hujan, di negara Indonesia ada musim lupa. Kita lupa bahwa kita manusia.

Sinau bareng di Maiyah itu berangkat dari pengalaman. Banyak orang lupa, apakah dia harus menempatkan diri sebagai mediator atau fasilitator hanya karena keinginan, kata Mas Tri Wahyu. Dari pemaparan Mas Tri Wahyu, Kang Hajir merespon soal universitas dan fakultas. Menurut Mas Hajir kampus dan dunia modern itu fakultas. Kita bisa memasuki Maiyah melalui banyak pintu. Apabila anda memisahkan diri dengan masyarakat, sehingga kamu menganggap masyarakat adalah hal yang beda darimu. Begitu juga dengan Maiyah. Saat ini kita setiap bulan berkumpul di sini bukan semata-mata ingin menjadi ahli unjuk referensi, namun di sisi lain kita juga belajar bersama, bergembira dan meningkatkan spiritualitas dan intelektualitas kita.

Foto: Dok. GS | Lokasi : Masjid Baiturrahman, Simpanglima, Semarang

Untuk menghangatkan suasana, malam itu ada seorang laki-laki bernama Mas Memet dari Kudus mempersembahkan puisi karyanya yang berjudul “Lelah”. Para jamaah dan hadirin terlihat menikmati yang dipersembahkan oleh Mas Memet. Tak sekadar canda dan tawa yang mereka dapat, bisa jadi hal kemesraan juga mereka dapatkan. Kemudian Kang Ali menanggapi apa yang disampaikan Mas Tri Wahyu dan Kang Hajir. Kang Ali menyampaikan apa yang sudah disampaikan oleh Mbah Nun beberapa minggu lalu waktu sinau bareng di Kudus. Di Maiyah, tidak untuk unjuk referensi. Kalau anda melihat pemantik-pemantik di sini yang sangat kuat referensinya, itu bukan kebenaran mutlak yang harus dijadikan sebagai pembelajaran. Karena yang sinau bareng bukan hanya kita yang memberi penjelasan kepada para jamaah. Namun, semua yang hadir dan melihat ada yang tidak pas apa yang disampaikan pengisi boleh saja mengungkapkan pendapatnya di panggung. Jangan berhenti bergumam dan segeralah berdiri untuk bersama ikut di panggung. Kang Ali menegaskan, para penggiat itu hanya moderator kegembiraan yang mempunyai dedikasi yang sama.

Pak Ilyas turut menekankan bahwa di sekolahan dan di kampus, guru ataupun dosen kadang lupa bahwa salah satu yang dijalaninya itu sebagai mediator, motivator dan juga fasilitator. Banyak kelupaan terjadi karena kita sebagai manusia selalu meremehkan hal-hal yang sepele. Kalau memilih pemimpin itu ibarat memilih imam di Masjid. Jangan memilih karena iklan yang terpampang di baliho dan poster.

Mengawali sesi diskusi, Habib Anis mengatakan manusia ingat saat usia di bawah umur lima tahun karena kesadaran manusia itu selalu aktif. Lupa itu bawaan manusia, bisa jadi lupa karena direkayasa. Lupa bisa dimanipulasi dan hanya bisa dilawan dengan zikir. Manusia itu lupa pada dirinya sendiri, padahal dia sedang berbohong. Zikir itu akan membuat manusia bahwa dirinya rapuh dan sering lupa. Tawasul itu artinya sejajar, bahwa anda ketika menasihati bukan berarti anda sedang menasihati. Bukan berarti anda lebih baik dari orang yang anda nasihati. Habib Anis menegaskan, sholat Tahajud itu fungsinya tempat untuk latihan agar seseorang saat menghadapi masalah apa pun, dia akan tangguh. Sebagai manusia kadang kita lupa saat sadar ataupun tidak sadar. Apalagi orang lupa sejajar dengan orang pelupa bahwa mereka sedang lupa. Hidup itu sebenarnya melawan lupa, hanya dengan zikir kita akan selalu ingat, karena dengan zikir kita bisa mengingat bahwa kita mengingat-ingat kembali, tambah Habib Anis.

Foto: Dok. GS | Lokasi : Masjid Baiturrahman, Simpanglima, Semarang

Sebelum ke Gus Aniq, Cak Nugroho seperti biasa tampil dengan puisi ”ora blas puisi”. Sekitar lima buah puisi yang dibacakannya semua mengandung “Nasionalisme Negara Indonesia” menambah suasana dini hari semakin hangat dan bergembira bersama. Menjelang tengah malam Gus Aniq rawuh. Tidak banyak yang beliau sampaikan malam itu. beliau sedikit merepons dan tidak mau dalil. Gus Aniq menambakan, selupa apa pun yang dilakukan manusia itu Gusti Allah tidak bakal lupa pada apa pun yang sudah kita lakukan.

Sebagai penutup acara Habib Anis meminta para jamaah berdoa untuk dirinya sendiri dan untuk bangsa Indonesia. Karena saat ini yang katanya memuja dan taat kepada Tuhan, namun yang terjadi malah menghina Tuhannya sendiri. Dan Habib Anis menambahkan doa yang paling bagus itu ketika anda mendoakan orang lain. Tak lama kemudian sebagai puncak acara Gambang Syafaat edisi Oktober ditutup doa yang dipimpin langsung oleh Habib Anis dan diakhiri dengan berdiri bersama-sama melantunkan Shohibu Baiti. Tak lupa para penggiat dan jamaah bersama-sama mengembalikan peralatan dan membersihkan sampah-sampah hingga berpamitan untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Sampai bertemu di acara Gambang Syafaat bulan November. (Galih Indra Pratama).

BERBAGI
Redaksi Gambang Syafaat
Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.