Perjumpaan maiyah adalah perjumpaan kemesraan dan kegembiraan. Di dalamnya tersimpan dan tergaungkan olah rasa kebersamaan. Penciptaan rasa bukanlah hal yang mudah. Mafhum di maiyah duduk berjam-jam menikmati kehadiran, mendengarkan pembicaraan, meresapi kebaikan, mencerna keindahan dan memesrai keberagaman, membangun kesadaran untuk mencipta keselarasan jagat.

Mbah Nun tak pernah memejamkan mata untuk selalu melihat bagaimana anak-anak maiyah berguyub menyatu dalam jagat kegembiraan. Itulah maiyah: ma’iyyah, yang bernisbat kebersamaan.

Keindahan dan kegembiraan itu menuntun saya untuk melihat maiyah dengan cara pandang lain juga yang menakar dan menikmati kemesraan berakal dan berbudi. Transliterasi bahasa Arab ke bahasa Indonesia atau sebaliknya sering mengundang anggapan dan membuahkan ragam arti. Jika tulisan maiyah terliterasikan ke bahasa Arab akan mewujud dalam ruang kata ma’iyyah dan mā`iyyah. Ada penekanan lain dalam bentuk kedua yang menghadirkan makna, yakni yang bernisbat air.

Air didasarkan atas sifat penciptaan yang menyejukkan dan menyegarkan. Ia sendiri punya ciri yang ketara untuk mengatur keseimbangan. Air tidak memihak kanan dan pun tidak memihak kiri. Tapi, ia mengerti kanan dan kiri. Pola keseimbangan dan keselarasan tidak serta merta membaku menjadi bahan jadi, tetapi terus menerus dihadirkan, dimengerti, dirasai, diramu dan disuguhkan.

Suguhan maiyah adalah air kesegaran dan kesejukan. Segar tidak harus sesuatu yang mengandung es. Kita sering dan hendak mengatakan “Yuk, golek seger-segeran!”. Rupanya yang kita maksud adalah makan bakso, mie ayam atau sop. Padahal ketiganya disuguhkan dalam kondisi panas. Malahan tidak afdlol jika tidak ditambahkan sambal. Sehingga terkadang apa yang kita anggap sesuatu yang dihadapkan saling menegasikan, tidak selamanya membuahkan negasi. Ia bisa menjadi polaritas yang dapat memberikan kemanfaatan pula. Jika ingin memakai silogisme sederhana: Gambang Syafaat adalah maiyah. Maiyah adalah air. Maka, Gambang Syafaat adalah air.

Kita tengok bagaimana Nabi Muhammad membawakan dan meletakkan air sebagai “ma`ul kaun”, air semesta, yang selalu dialirkan ke semesta kecil dan semesta besar, yakni manusia dan alam. Bahkan bagaimana Nabi Muhammad ketika diberi mukjizat mengeluarkan air dari jemarinya.

Pun, bagaimana kita melihat sisi air dalam Al-Qur`an yang diturunkan dari langit untuk menukulkan buah-buahan sebagai rejeki bagi kita semua. Bagaimana juga kita melihat daratan-daratan Nusantara yang dihubungkan oleh air laut atau selat. Sehingga selayaknya dan semestinya laut bukan pemisah daratan, tapi penghubung daratan.

Akhirnya, saya berdoa semoga Gambang Syafaat dengan ulang tahun yang ke-19 selalu dikaruniai air yang membawa keberkahan, mengaliri semuanya, menjaga keseimbangan, menebarkan manfaat-manfaat, menghubungkan rasa dan menyatu dalam keselarasan jagat. Āmīn.[]