Ramadhan adalah bulan untuk mempuasai dunia.
Untuk melatih kita mengambil jarak dari dunia.
Untuk menjauhi dunia. Untuk mengatasi dunia.
Jangan sampai pernah kalah oleh dunia dan isinya.
Untuk memperoleh kemenangan atas nafsu-nafsu dalam diri kita
Yang memperbudak kita agar menyembah dunia.

(Emha Ainun Nadjib)

Puasa Ramadhan sudah menjadi ritual bagi umat Islam setiap tahunnya. Ramadhan selalu menjadi magnet tersendiri dalam berlomba-lomba mencari kebaikan. Mulai dari berpuasa, tadarus, ngaji kitab kuning, shalat tarawih, bersedekah, dan beramal baik lainnya. Hal ini dikarenakan semua amal di bulan Ramadhan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Bukan hanya itu, di bulan Ramadhan juga terdapat peringatan nuzulul quran dan lailatul qodar yang tidak ada di bulan lain. Ramadhan dari tahun ke tahun memang memiliki atmosfer yang mengesankan dan mengasyikkan.

Ramadhan memiliki keistimewaan sehingga manusia diwajibkan untuk berpuasa. Bahkan tuhanpun mengatakan puasa itu untukKu dan Aku akan membalasnya. Namun janganlah menyangka bahwa Allah membutuhkan puasa yang dijalankan hambaNya. Allah itu Maha Agung dan Maha segalanya. Bukankah penyataan assoumuli wa ana ajzi bihi merupakan diplomasi cinta sebagai bentuk kasih kasang Allah kepada hambaNya?

Membaca buku Mbah Nun berjudul Tuhan Pun Berpuasa, kita disuguhi beragam gagasan yang mengupas perihal puasa. Mbah Nun juga menyajikan makna puasa dengan berbagai sudut pandang. Mulai dari Puasa dalam Syahadat, Shalat, Zakat, dan Haji. Puasa dan Kepentingan. Puasa dan Kesenangan. Puasa dan Rasa Memiliki. Puasa dan Tarikat Wajib dan Kebudayaan. Puasa Kaum Ghuraba. Puasa Menuju Makan Sejati. Puasa: Mondolan dan Kepriyaian. Dan Tuhan Pun Berpuasa. Buku ini seakan mengajarkan kepada pembaca untuk memahami dan memaknai arti puasa serta bagaimana cara kita berpuasa.

Di samping itu, buku terbitan Kompas ini sekaligus menjadi evaluasi kepada setiap insan dalam menjalankan puasanya. Apakah puasa yang telah dijalankan sekedar menghindar dari kebutuhan fisik ataukah sebagai sarana dalam meningkatkan kesadaran menuju makan yang sejati. Jika puasa hanya dijalankan untuk menggugurkan kewajiban tidak dipersoalkan, tetapi lebih penting dari semua itu adalah menjadikan puasa sebagai kebutuhan dalam kehidupan.

Menjalankan rukun Islam keempat tidak hanya sekedar menahan makan, minum, seks dan laku maksiat. Ritus berpuasa harus menjadi pembelajaran. Berbagai ajaran dan tindakan yang dianjurkan dalam berpuasa seharusnya tertanam pasca Ramadhan selesai. Bagaimana cara menghargai orang lain, bersosial, meningkatkan ubudiyah dan lain sebaginya. Itulah nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya kadar keberhasilan manusia lulus mengambil hikmah Ramadhan tidak bisa diukur, hanya dirinya dan Allah yang mengetahui. Namun kebiasaan bersosial secara kasat mata yang menjadi acuan orang lain. Kita hanya bisa mengira-ngira kepribadian seseorang. Paling pokok setelah menjalani Ramadhan adalah kita tingkatkan hubungan horizontal dan vertikal.

Jika nilai-nilai puasa menjadi kebiasaan bagi setiap insan. Maka Ramadhan tidak hanya berlangsung satu bulan, tetapi substansinya akan terjadi terus-menerus. Berpuasa berarti menahan, menanggalkan, dan meninggalkan dari sesuatu yang semestinya boleh dilakukan, tetapi kita rela tidak melakukannya karena ada kepentingan yang melandasi yaitu perintah ilahi. Selama sebelas bulan, kita kerap memanjakan nafsu untuk berorientasi dunia bahkan lupa serta kalap hal yang bersifat ruhaniyah.

Naluri manusia memang ingin selalu dipenuhi dari berbagai kebutuhan, tetapi puasa menunda kesenangan tersebut demi kepentingan ilahiyah. Namun perlu dipahami bahwa pengorbanan umat Islam dalam menjalankan puasa bukanlah diperuntukkan bagi Sang Khaliq, tetapi akan kembali pada pribadi masing-masing. Oleh sebab itu, ilmu berpuasa memang penting dan harus dipelajari. Jangan sampai berpuasa hanya terasa menahan makan dan minum tanpa memahami substansi amar berpuasa dan tujuan puasa. Bukankah puasa itu menjadi media pembelajaran bagi umat Islam dalam menyikapi kehidupan. Melalui puasa, kita seharusnya belajar menjadi pribadi yang tahu diri akan kebutuhan sejati, makan sejati serta mempelajari ilmu mati. Dan pada akhirnya orang berpuasa akan mendapatkan jaminan dua kebahagiaan yaitu saat berbuka dan saat bertemu Allah. ()