“Sanadyan ragaku madhep watu, nanging atiku mantep madhep guru.” Batin Ekalaya, sambil mencoba menyelesaikan ukiran patung dihadapannya. Resi Durna menolak Ekalaya bukan tanpa sebab. Bukan tentang tidak senang berbagi ilmu. Bukan juga tentang memilih-milih penuntut ilmu. Tetapi tentang janji, yang telah ia ikrarkan kepada Prabu Destarastra, bahwa dirinya akan mengabdi kepada Astina, akan mengajarkan semua ilmu, pengetahuan, keterampilan, filosofi hidup, kanuragan, ajian, semua yang diketahuinya, semua yang dikuasainya, kepada keturunan Astina. Hanya kepada keturunan Astina. Maka meskipun melihat tekad kuat dan bakat alami yang dimiliki Ekalaya, dengan berat hati Resi Durna memilih setia terhadap janji dan kata-katanya.

Cerita wayang utamanya bukan tentang banyaknya versi. Cerita wayang adalah tentang bagaimana menghayati atau menciptakan versi, yang mampu hidup, tumbuh, dan berkembang dalam diri, yang mampu menginspirasi sampai ke perilaku sehari-hari. Resi Durna saya versikan sebagai potret guru yang sejati. Yang mengetahui hakikat ilmu sampai yang paling dalam, kelam, gelap, dan sunyi.

Bisma Dewabrata adalah manifestasi pengabdian utuh dari seorang laki-laki. Perjalanannya penuh pelajaran betapa beratnya menepati sebuah janji. “Dengarkanlah sumpahku wahai alam yang bersaksi. Mulai hari ini aku melepaskan hakku atas tahta Astina. Dan tidak akan pernah aku sentuh perempuan, supaya kelak tidak ada keturunanku yang menuntut hak sebagai pewaris kerajaan.” Pokoke ruwet. Intine, demi sebuah pengabdian.

Lagi, Rahwana dan Kalapracona merupakan ejawantah perjuangan cinta. Bahwa cinta perlu diperjuangkan, bukan didiamkan disimpan dalam dada. Rahwana menculik istri orang, sampai perang negoro dilakoni. Demi cinta. Kalapracona gandrung kepada Dewi Supraba, mengobrak-abrik kahyangan para dewa, dilakoni. Demi cinta. Belum kisah keteladanan Arjuna Sasrabahu, patriotisme Kumbakarna, ketangkasan Jambumangli, kesaktian Rama Bargawa, kegelapan Gatutkaca, pengorbanan Abimanyu, ketabahan Dewi Kunti, laku tirakat Pandawa, dll dst. Semuanya hidup, tumbuh, dan berkembang dalam diri saya, dengan versi yang mungkin jauh berbeda dari mainstream.

Kapan-kapan kalau ada waktu akan saya ceritakan bagaimana kisah Sugriwa dan Subali dapat mempegaruhi saya sehingga menjadi lebih mantab dalam menjalin kesepakatan satu tahun kontrak dengan sebuah instansi. Ah, tetapi kapan-kapan saja kita bicara, sambil ditemani tembakau dan kopi.

Nah… Ekalaya yang hanya berguru kepada patung buatannya, yang ia buat semirip mungkin dengan Durna, dengan keteguhan hati berkhayal terhadap sosok Guru yang didambakannya, ternyata mampu melampaui Arjuna, yang bahkan dilatih langsung oleh Durna. Kalau mau ngomong prestasi, ini bukan prestasi biasa-biasa saja. Karena Arjuna dikenal sebagai kesatria yang sangat mahir dalam menggunakan panah. Hal ini bahkan diakui sendiri oleh Durna, “Aku sudah berkeliling sangat jauh di dunia wayang. Belum pernah aku melihat keterampilan memanah seperti ini, bahkan di usiamu yang masih muda.” Maka betapa terkejutnya Durna dan betapa mindernya Arjuna mengetahui ada kesatria lain yang lebih sakti, lebih terampil, lebih mahir.

Ekalaya adalah seorang Raja dari sebuah negeri bernama Paranggelung. Sangat jauh dari Astina. Negeri yang kecil, namun sejahtera. Memiliki prajurit yang loyal dan senopati yang setia, tetapi ditinggalkannya. Demi keinginan untuk berguru kepada Resi Durna yang namanya memang sudah terkenal sampai belahan-belahan dunia. Memiliki permaisyuri yang cantik jelita, ditinggalkannya. Demi keteguhan untuk menuntut ilmu, demi mencari makna kesejatian dunia.

Kenapa saya awali tulisan ini dengan cerita mengenai wayang dan Ekalaya? Dua hal. Yang pertama, Mbah saya adalah seorang dalang. Maka di dalam tubuh saya mengalir darah pecinta wayang. Meskipun sangat sedikit yang baru saya pahami, tidak mengapa. Cinta bukan tentang pemahaman. Cinta adalah tentang cinta. Kapan-kapan kalau ada waktu akan saya ceritakan bagaimana hadirnya televisi mampu merubah arah garis hidup saya yang digadang-gadang meneruskan perjuangan menjadi seorang dalang, wayang kulit. Kalau tidak karena televisi, ah… tetapi kapan-kapan saja, tentu saja sambil ditemani tembakau dan kopi.

Nah… tibalah perjalanan saya sampai mengalami persentuhan dengan Mbah Nun. Semakin masuk, semakin dalam, semakin banyak tahu, semakin naik kesadaran. Tentang Maiyah, tentang simpul, tentang tirakat, tentang Nusantara, tentang leluhur, tentang nasab, dll dst. Waktu itu di Mocopat Syafaat Mbah Nun berpesan, agar salah satu dari jamaah ada yang khusus belajar, mendalami, mencintai, memahami, atau entah apa pokoknya tentang wayang. Bahwa wayang itu penting, bahwa wayang itu indah, gitu-gitu lah. Sejak saat itulah wayang semakin menempati ruang khusus dalam hati dan jiwa saya. Gara-gara Mbah saya, dan Mbah Nun.

Yang kedua, kenapa saya awali tulisan ini dengan cerita mengenai wayang dan Ekalaya? Momentum kejadiannya sama. Waktu itu di Mocopat Syafaat, kalau tidak salah Pak Totok yang ngendhikan. Bahwa Mocopat Syafaat ini belum mandiri. Masih butuh Mbah Nun. Tidak seperti Gambang, yang tetap berjalan meskipun tanpa Mbah Nun. Lalu dipungkasi Mbah Nun, bahwa Gambang Syafaat adalah Bambang Ekalaya. Pikirku waktu itu, “Ah, itu kan narasi-narasi untuk memotivasi saja. Supaya senang hatinya, supaya kuat mentalnya…” Tetapi setelah saya pikir lebih dalam, setelah saya pelajari lagi tentang Ekalaya, setelah saya baca-baca berbagai versi cerita tentangnya, setelah mencari tahu tentang Gambang Syafaat, latar belakang terbentuknya, bagaimana perjalanannya, proses di dalamnya, orang-orang yang menemaninya, akhirnya sampai pada titik kesimpulan bahwa Gambang Syafaat memang benar-benar Bambang Ekalaya.

Perlu diketahui saya belum pernah datang ke Gambang Syafaat. Saya merasa belum pantas bertemu dengan Bambang Ekalaya dengan kondisi seperti ini. Maka saya menciptakan sendiri wahana yang disana terdapat perjuangan, kesabaran, susah payah, yang saya berat melakukannya, malas melaksanakannya. Jadilah tulisan pendek yang sederhana ini. Paling tidak menjadikan saya lebih percaya diri untuk ikut merayakan 19 tahun perjalanan Gambang Syafaat. Tunai. Sampai bertemu…

Dari perjalanan Ekalaya dan Gambang Syafaat, saya belajar banyak hal. Tentang kemandirian, tentang keistikamahan, tentang kegigihan, tentang kesabaran, bahkan tentang kesederhanan, tentang kebersamaan, tentang perjuangan, tentang kemurnian, dll dst.

Selamat untuk Gambang Syafaat, untuk jamaahnya, untuk penggiatnya, untuk orang-orang yang menemaninya, untuk orang-orang yang tirakat bersamanya, tetap bergembira, tetap berjuang, tetap berdaulat, tetap melayani, tetap memberi manfaat, tetap menumbuhkan optimisme. Rahayu… Rahayu…