Persentuhan orang-orang dengan Gambang Syafaat melalui berbagai cara. Ada yang sengaja ada yang tidak sengaja. Ada yang sengaja mencari, meniatkan hati datang dari jarak berkilo-kilometer untuk duduk dan merasakan sensasi ber-Gambang Syafaat, tetapi ada yang duduk-duduk di emperan masjid Baiturahman kemudian mendengar Gambang Syafaat dan merapat, ia datang lagi dan lagi.

Ada yang mendengar dari teman, bahwa ada sebuah forum yang aneh, lain dari pada yang lain, seperti pengajian, seperti pertunjukkan musik, seperti seminar, tapi bukan itu semua. Maka mereka datang untuk bertemu pada ketidakjelasan itu. Orang-orang datang dengan berbagai motif, ada yang ingin meletakkan semua beban hidup, rilek di Gambang Syafaat, tetapi ada juga yang ingin belajar serius. Pada akhirnya yang didapat juga beragam, ada yang mendapatkan kebahagiaan, ketentraman hidup, jodoh, dan pengembangan diri. Ia yang punya kemampuan membuat puisi bisa diapresiasi di sini, ia yang bisa musik juga demikian. Bahkan yang bisa desain poster, kemampuan menulis juga bisa diasah disini. Ada yang sudah mengalami Gambang Syafaat selama puluhan tahun, sejak tahun pertama forum ini diselenggarakan ada juga yang baru sekali berangkat.

Kang Noeg, atau Kang Miyanto Nugroho yang dikenal sebagai penyair ‘Puisi ora Puisi babarblas’ mendatangi Gambang Syafaat sejak tahun pertama forum ini diselenggarakan yaitu pada tahun 1999, tepatnya bulan ketiga. Dulu belum ditentukan tema seperti Sekarang, sebagai pengisi adalah Cak Nun dan Kyai Budi Harjono. Ia bersentuhan dengan Gambang Syafaat dan Maiyah bermula dari membaca tulisan-tulisan Cak Nun di koran. Setiap kali membuka koran pasti yang dia cari adalah tulisan-tulisan Cak Nun. Tulisannya menggelitik, kritis, dan unik. Selanjutnya dia mencari buku-buku beliau di toko buku. Buku-buku Cak Nun waktu itu sulit dicari di toko buku, dia pulang dengan sia-sia. Sampai akhirnya dia melihat spanduk kain yang tersablon. Spanduk itu berisi pengumuman adanya pengajian Gambang Syafaat dan menghadirkan Cak Nun sebagai pengisinya. Sepuluh tahun setelah hadir rutin itu, Cak Noeg baru menjadi penggiat. Penggiat adalah orang-orang yang masuk ke dalam untuk ikut mengurusi Gambang Syafaat, mulai dari menggelar tikar, menyiapkan acara. Dari yang tadinya datang dan pergi, Cak Noeg kemudian datang lebih awal untuk persiapan dan pulang akhir untuk beres-beres. Lalu apa syaratnya menjadi penggiat. Tidak ada syaratnya, syaratnya adalah mau, mengerjakan yang bisa dikerjakan untuk Gambang Syafaat.

“Ketika membaca tulisan Cak Nun di koran Suara Merdeka saya mulai jatuh cinta dengan beliau. Setiap bertemu koran dan tabloid yang saya cari dulu yaitu tulisan Cak Nun. Kemudian saya mulai hobbi dolan ke toko buku untuk mencari buku-buku karya Cak Nun, tetapi sering kali saya ibarat mendapat kupon, ketika dibuka terdapat tulisan ‘Anda belum beruntung’.”

Cak Noeg melanjutkan “Pucuk dicinta ulam tiba, ketika saya sedang jalan-jalan di pasar Johar ada sebuah spanduk bertuliskan pengajian bersama Emha Ainun Nadjib di Masjid Baiturrohman Simpang Lima. Pencarian saya akan buku-buku karya Cak Nun yang sering mengalami ketidakberuntungan terbayar oleh Allah bertemu dan mengaji langsung kepada Cak Nun hingga saat ini.”

Cak Noeg bercerita bahwa suasana pengajian dulu saat awal-awal dia datang ke Gambang Syafaat tidaklah jauh berbeda dengan sekarang dimana ada dialog interaktif dengan konsep tetap sinau bareng. Yang datang juga banyak seperti sekarang. Sedangkan topik-topik yang dibicarakn adalah situasi yang sedang berkembang di wilayah bangsa, negara, pemerintah. Islam tetap menjadi parameter dalam cara memandang.

Cak Noeg menambahkan bahwa dinamika Gambang Syafaat luar biasa mengharukan juga membanggakan. Meskipun jarang dirawuhi Cak Nun secara lahir. Gambang Syafaat tetap istiqomah, tetap sinau bareng setiap tanggal 25. Yang menjadi catatan terpenting bagi Gambang Syafaat adalah Cak Nun tidak pernah tidak rawuh. Beliau selalu rawuh dalam bentuk ruh, menjiwai, mewarnai, dan mendidik dengan cara apapun. Kasih sayangnya selalu hadir untuk anak-cucunya di Gambang Syafaat. (Redaksi/hjr).