Kamu sibuk apa? Ini adalah pertanyaan biasa, pertanyaan yang sering kali ditanyakan orang kepada kita. Jawabannya tentu saja macam-macam. Jawaban atas pertanyaan tersebut, bisa benar-benar dipikirkan, bisa sekenanya, juga bisa sesuai suasana hati.

Jawaban-jawaban yang mungkin dari pertanyaan tersebut, tidak akan lepas dari faktor berikut. Yang pertama, orang sedang sibuk dengan “gangguan”nya. Apa yang mengganggu itulah yang membuat orang mau tak mau sibuk untuk lepas dari “gangguan”. Saat orang sedang dilanda banjir, siapa pun akan sibuk dengan banjir. Gangguan setiap orang berbeda-beda.

Beberapa orang mungkin urusan “perut” adalah gangguan yang paling sering terjadi. Besok makan apa, belum jelas, duitnya belum ada, pasti menjadi gangguan, maka kesibukan orang yang sedang mengalami “gangguan” itu adalah sedang sibuk golek upo. Maka kalau ketemu orang yang masih sibuk dengan gangguan, biarkan dia menyelesaikan gangguan tersebut.

Faktor yang kedua, orang sedang sibuk apa? Tergantung dari tanggung jawab nya, kepada anak-anak sekolah, mungkin jawabannya sibuk mengerjakan PR. Kepada mahasiswa lain lagi, sibuk skripsi. Sibuk kejar target bagi para pekerja. Bolehkah anak-anak sekolah meninggalkan kesibukannya mengerjakan PR? Boleh saja, saat anak ada “gangguan”, misalnya sakit, tentu sibuk nya anak bergeser dari kesibukan tanggung jawabnya ke kesibukan mengurusi “gangguan”.

Faktor ketiga, adakalanya di saat orang sudah tidak ada tanggung jawab, tidak sedang ada “gangguan” semisal pensiunan yang sehat, yang anak anaknya sudah “mentas”, kesibukannya adalah apa “peran”nya. Orang ngurusi masjid, menjadi donatur misalnya, sibuk di masyarakat,  bisa jadi karena orang ingin berperan.

Jadi, saat ditanya kamu sedang sibuk apa? Biasanya jawabannya di sekitar faktor tadi; “gangguan”, tanggungjawab dan peran. Bisakah ketiganya dilakukan secara paralel? Orang sekaligus sibuk dengan “gangguan” nya, juga tanggungjawab dan perannya. Jika hidup adalah panggung sandiwara, yang di situ ada skenario, maka membaca skenario adalah memahami peran, tanggungjawab dan resiko “gangguan”nya.

Di dalam sebuah peran, ada lingkaran tanggung jawab, ada lingkaran pengaruh, serta lingkaran informasi. Wajib ain hukumnya kita “handle” lingkaran tanggung jawab kita, terhadap lingkaran pengaruh, tandang kita bersifat ‘fardu kifayah’. Sedangkan terhadap lingkaran informasi, bisa sunah, bisa mubah, sikap dan respon kita.

Melanjutkan diskusi tentang peran maka kita bisa memilih atau dipilih. Meletakkan diri atau diletakkan. Menjebak atau dijebak, pada posisi mana kita akan menyandang peran. Bolehlah kita mbagong, nggareng, metrok, atau nyemar.

Nyemar atau laku Semar adalah laku ngemong, mengemban tugas untuk mengayomi. Laku Semar bukanlah laku yang mudah, ia rela mundur, berperan menanggung beban tetapi bersembunyi. Sepi ing pamrih rame ing gawe. Momongannya bisa saja nakal, gembelengan dan menjengkelkan. Tapi jalan Semar bukan jalan perang, ia bersabar. Meskipun sekali kentut momongannya bisa kalang kabut. Tapi Semar menahan diri, ia mempertimbangkan efek atau dampak akan mengenai orang-orang yang tidak berdosa.

Semar adalah manusia bervisi panjang. Jika bukan dia yang akan berubah, mungkin anaknya atau mungkin cucunya.

Di Indonesia, laku Semar itu diemban oleh banyak orang. Petani itu menanam meskipun panen belum tentu berhasil, lahan mahal, pupuk susah didapat, dan panen seringkali dibeli murah, tetapi mereka terus menanam, karena mereka ngemong. Petani berkata “Jika saya tidak menanam, orang-orang mau makan apa?”

Para pelaku seni seperti kelompok Wayang Orang Ngestipendawa juga begitu. Mereka pentas seminggu sekali meski kursi jarang penuh, tetapi mereka jejeg di tengah masyarakat yang hingar bingar dan gaduh. Ngestipendawa ngemong masyarakat melalui pementasan yang mereka lakukan.

Sebagaimana peran, maka Nyemar kita bergantung pada lingkup pengetahuan dan pengaruh kita. Bisa lingkup kebudayaan, pendidikan, kampung, kota, atau momongan kita bernama Indonesia.

Pun, atas peran itu kita bisa memalingkan muka dan berkata. “Maaf saya sedang sibuk”.

Gambang Syafaat pada edisi 25 September 2018 ini mengangkat tema “Jagat Semar” jagatnya para pengemong orang-orang yang memilih jalan ngemong.

BERBAGI
Redaksi Gambang Syafaat
Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.