Ini adalah arsip atas percakapan saya dengan dua orang tamu. Tamu pertama saya seorang salik, pengamal tarekat tertentu yang tentu saja tidak mau disebutkan. Tamu kedua saya adalah seorang anak muda yang “berguru” secara amatiran kepada tamu pertama saya. Saya sendiri, menggelar majelis kuaci. Saya sediakan kopi dan kuaci untuk mereka berdua. Tentu saja sajian kuaci saya tidak gratis, saya diam-diam nguping pembicaraan kedua orang tamu saya itu.

Ada kalimat-kalimat yang tidak saya mengerti, perihal ‘dibongkar’, ‘protokol ruh’ dan lain-lain. Ada satu kata yang diulang-ulang dalam percakapan tersebut yakni kata hijab dan tercerahkan. Harap diingat, hijab di sini bukan perihal dari hijaber dalam artian pakaian. Yang saya pahami hijab di sini adalah selubung atau batas.

Seorang pelaku dalam perjalanan rohaninya menyingkap hijab-hijab yang menyelubungi hikmah. Untuk bisa menyingkap selubung tersebut tidaklah mudah, seorang pelaku harus setoran “cinta” kepada Sang Kekasih melalui mursyid. Itu yang saya dengar dari percakapan antara dua tamu saya tersebut.

Menurut saya, cara kerja membuka hijab itu sederhana, yakni menekan ketergantungan kita terhadap apa-apa selain Tuhan. Yang saya maksud ketergantungan tentu saja ketergantungan kepada apa saja, Jadi kalau terhadap manusia, orang lain di sekitar kita, ketergantungan harus ditekan sedemikian rupa agar hanya sebuah hubungan silaturahim biasa, dan kesepadanan. Seorang bawahan kepada atasan tidak boleh melakukan pola hubungan yang mirip penghambaan.

Sedangkan terhadap benda, ketergantungan harus dihilangkan sehingga tercapai suatu keadaan, tidak harus pakai benda tersebut, tetapi juga tidak harus tidak pakai. Kepada mobil misalnya, boleh pakai mobil, tidak pakai mobil juga tidak masalah. Kepada uang juga demikian, kepada jabatan kepada apa saja. Bukan menolak tetapi melakukan sikap “gak patheken, ketika ditinggalkan”.

Tentu saja ketergantungan terhadap sesuatu itu punya gradasi, maka wajar seorang salik juga ada tingkatan-tingkatannya. Semakin tidak tergantung kepada selain Allah, maka hijab atau selubung semakin terkuak, dan hubungan dengan Sang Kekasih seolah –olah langsung, serba “cash and carry”. Tentu tidak mudah, apalagi jika ketemu mursyid yang ternyata “ora cetho”. 

Sekarang ada semacam “sufi freelance”, yakni orang yang menjalani perilaku tasawuf tanpa bertarekat, tanpa bermusyrid. Alasan mereka adalah, sudah paham cara kerja dari “menyingkap selubung”, dan tidak bertemu dengan mursyid yang meyakinkan. Mending salah tapi pilihan sendiri, daripada salah ngikutin orang.