Saya tidak begitu memahami kalimat gemah ripah loh jinawi, maka dari itu izinkan saya menggelar pertanyaan pertanyaan sebagai lambaran, kuda kuda untuk memasuki gemah ripah loh jinawi.

Saya punya asumsi, punya rumus tentang keadaan bahagia. Bahagia memuat dua unsur, yakni senang dan tenang. Senang adalah rasa bahagia yang berdimensi ke luar. Orang bisa beli handphone baru, itu senang. Orang bisa jeng jeng tetukon macem-macem itu juga kesenangan. Maka kalau orang ngajak senang-senang ke pengajian, agak salah. Di kalangan pria-pria yang suka jalan-jalan, ada akronim puskesmas, pusat kesenangan mas-mas, maksudnya adalah semacam karoeke, tempat nyodok, baik dalam arti sesungguhnya maupun arti kiasan.

Berbeda dengan senang, yang merupakan unsur bahagia berdimensi ke luar. Maka sebaliknya tenang adalah unsur bahagia yang berdimensi ke dalam. Anda melihat kakek-kakek dan nenek-nenek berjalan bergandengan tangan, mesra. Hati Anda cess, ada kebahagiaan yang tak tergambarkan. Saat Anda ditelpon anak yang sedang keluar kota dan mengabarkan sudah sampai tujuan. Maka deg-degan langsung runtuh berubah menjadi tenang. Anda tidak pegang uang sama sekali, Anda tetap tenang, sebab Anda juga di saat itu tidak ingin beli apa apa. Anda tidak senang, tapi bisa tenang.

Kalau mas-mas yang habis senang-senang di puskesmas, pulang ke rumah, apakah bisa tenang? Tentu kalau itu dilakukan sembunyi-sembunyi, tidak bisa tenang, “ojo ojo konangan bojo”. Apakah seorang maling bisa bahagia? Dengan rumus sederhana saya bahwa bahagia adalah bisa senang dan tenang. Maka maling itu bahagianya tidak kaffah, sebab bisa jadi dimensi senangnya terpenuhi tapi dimensi tenangnya tidak.

Apa hubungannya nya dengan gemah ripah loh jinawi? Dengan hanya mendengarkan kalimatnya, saya rasa sebagaimana bahagia, gemah ripah loh jinawi juga berdimensi ke dalam dan ke luar.

(1) Apakah selama ini kita memahami gemah ripah sebagai kemakmuran yang berdimensi ke luar? Jika ya, maka pembangunan adalah jawabannya. (2) Apakah selama ini kita memahami gemar ripah sebagai kesejahteraan yang berdimensi ke dalam? Jika ya, maka keadilan adalah pintu masuknya. (3) Jika kita memahami gemah ripah sebagai kebahagiaan yang mencakup dimensi ke dalam dan ke luar, maka jawabanya adalah pembangunan yang berkeadilan. (4) Maka kalau kita bertanya gemah ripah kok begini, apakah pertanyaan timbul karena anda tidak melihat pembangunan dan kemajuan, atau Anda menemukan ketimpangan-ketimpangan dan ketidakadilan?

Wallahua’lam

BERBAGI
Ali Fatkhan
Berdomisili di abahgandrung@gmail.com, sehari hari bekerja sebagai PNS di Kudus. Penggiat di simpul Gambang Syafaat Semarang.