Kisah seekor kucing bisu. Suatu pagi seekor kucing bisu terpisah dari induknya. Ia terperangkap di balkon dan tidak bisa turun. Ia juga tidak bisa memanggil karena tidak bisa mengeluarkan suara. Kucing itu berjalan kesana-kemari mencari cara keluar dan selalu gagal. Kucing itu lapar. Ia putus asa. Sampai kemudian ia belajar dengan sekuat daya untuk mengeluarkan suaranya. Sampai kemudian suara itu muncul, lirih pada mulanya, hingga kemudian keras, keras sekali. Kucing kecil itu didengar oleh induknya dan diselamatkan. Yang paling menggembirakan dalam peristiwa itu adalah kucing kecil yang bisu itu menemukan suaranya. Kadang-kadang kita perlu dalam keadaan terpojok, terjepit untuk mengeluarkan potensi yang ada dalam diri kita. Bagaimana seandainya kucing itu tidak pernah terjebak di balkon, ia hidup nyaman saja dan tidak pernah ditempa masalah, maka ia tidak pernah menemukan suaranya.

Namun kita tidak perlu menunggu terpojok untuk mengeluarkan potensi yang kita miliki. Kadang kita harus berusaha keras agar potensi itu keluar dari otak kita. Ada cerita tentang Mbah Nun tentang caranya mengeluarkan kreativitas. Adalah Hernowo dalam pengantar buku berjudul Menulis Dengan Emosi Panduan Empatik Mengarang Fiksi. Ia bercerita pengalamannya mampir di 40-an, sebuah komunitas Mbah Nun dan teman-temannya saat masih muda. Hernowo menyaksikan Cak Nun menyelesaikan Islam sehari-hari dengan mengetik menggunakan kertas HVS warna-warni. Hernowo tidak paham dengan laku nulis Cak Nun itu, sampai kemudian ia berkesimpulan, bahwa kertas warna-warni itu membuat emosi kita berwarna, kaya raya, dan siap menelurkan ide-ide yang tidak satu.

Pada mukadimah kali ini kita akan membicarakan tentang kreativitas. Kreativitas adalah menembus jalan yang ‘buntu’. Dan kreativitas membutuhkan kepercayaan diri. Seorang pengekor tidak mungkin menjadi manusia kreatif. Nabi Muhammad dalam mengemban tugas kenabiaan diliputi banyak sekali tantangan, baik saat di Makkah maupun di Madinah. Dalam mencari jalan keluar ada yang langsung diberi petunjuk dari Allah, namun ada juga yang membutuhkan kreativitas dengan berembuk dengan para sahabat. Sebagai contoh, strategi dakwah di Makkah menyasar para pemuda anak kedua. Nabi mengenal kultur Arab, yang memberi peran penuh terhadap anak pertama sehingga anak kedua tidak banyak diberi peran. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Nabi. Tekanan yang luar biasa selama 13 tahun di Makkah memunculkan ide-ide Rosulullah.

Kreativitas memunculkan strategi. Hal itu terlihat pada pengambilan keputusan dalam perang Badar. Kaum Muslim kalah jumlah pasukan dibanding dengan kaum Quraisy. Tanpa kreativitas maka mereka akan kalah. Kaum muslim mengambil posisi di depan sumber-sumber mata air dan membelakangi sumber air. Kemudian menutup semua sumber air kecuali satu. Mereka membuat kolam sehingga pasukan muslim memiliki kesediaan air saat perang. Kaum musryik dengan pasukan yang banyak, membutuhkan air yang banyak pula, tetapi mereka tidak memiliki ketersediaan air. Kelebihan pasukan justru menjadi beban yang harus mereka tanggung dan menjadi sumber kekalahan.

Di peristiwa lain, setelah perang Uhud selesai, untuk mengusir tentara Makkah, Nabi juga memiliki strategi. Beliau membuat 500 titik perapian untuk memberi kesan bahwa pasukan Madinah masih kokoh dan siap bertempur. Dengan demikian, pasukan Makkah tidak lagi berpikir untuk menyerang balik.

Pada sebuah perang yang kemudian dikenal sebagai perang parit, Madinah sebenarnya dalam keadaan terjepit karena dikepung oleh pasukan gabungan dari Makkah dan kaum Yahudi yang terusir dari Madinah. Total tentara mereka sebanyak sepuluh ribu pasukan dengan tiga ratus pasukan berkuda. Sementara kaum Muslim hanya tiga ratus pasukan dengan dua ratus pasukan berkuda. Maka Salman, seseorang yang tadinya adalah budak mengusulkan untuk membuat parit yang mengelilingi Madinah. Rumput-rumput di sekitar parit itu telah dipangkas habis sehingga ketersediaan pakan untuk kuda tidak ada. Dengan adanya parit maka pasukan kuda tidak bisa masuk ke wilayah Madinah. Dari Madinah pasukan musuh disambut dengan anak panah.

Itulah kerativitas, ia hadir bersamaan dengan adanya tempaan. Dengan tempaan maka diri akan menjadi kuat dan tangguh. Sebagaimana Brotoseno dalam kisah Dewaruci. Bima atau Brotoseno menuruti perintah gurunya, Durna. Perjalanan Brotoseno adalah mencari air Tirta Prawitasari, ilmu pengetahuan sejati yang puncaknya adalah kebersatuan dengan Tuhan. Dalam perjalanan Brotoseno harus ke hutan Tibaksara dan Gunungraksamuka, maksudnya Brotoseno harus memiliki ketajaman kreativitas dan pemahaman yang mendalam. Ia harus mengalahkan Rakmaka maksudnya harus puasa atas kamukten dan kekayaan kemudian raksasa Rukmalaka, kemuliaan. Menyelam di samudra diartikan sebagai samodra pangaksami-pengampunan. Membunuh naga diartikan sebagai melenyapkan kejahatan dan keburukan diri. Bertemu dengan Dewaruci adalah simbul bertemu dengan kesejatian. Dan masuknya ke Dewaruci melalui telinga diartikan sebagai manunggalnya diri dengan sang pencipta. Bersatunya antara makhluk dengan penciptanya. Jadi segala ikhtiar, istihaj, kreativitas anak-anak Maiyah Gambang Syafaat tiada lain untuk kembali ke sang pencipta.

Sesungguhnya di samping kesukaran ada kemudahan. Apabila engkau telah selesai (mengerjakan suatu pekerjaan), maka bersusah payahlah (mengerjakan yang lain) (Al-Insyirah: 5-6).

Keseimbangan dari kesukaran adalah kemudahan dan hal itu beriringan. Untuk mencapai keseimbangan itu, untuk menghadirkan kemudahan di samping kesukaran itu dibutuhkan kreativitas.

Di suatu kesempatan, Mbah Nun pernah menyampaikan bahwa “Ke depan, kita harus berpikir untuk mencari siapa pun, kelompok, orang, tokoh, pikiran, filosofi, cara berpikir, apapun saja, yang dasar utamanya adalah mencapai kembali keseimbangan dalam berbangsa, bernegara, berpikir, dalam bidang apa saja. Kita kembali kepada keseimbangan itu. Karena hidup adalah keseimbangan.”

Maka kita perlu kreativitas agar diri kita, dunia, negara kita kembali dalam keseimbangan itu. Demikian.