Ibarat anak. Usia 18 tahun adalah masa seorang anak meninggalkan orang tuanya di rumah. Pada fase ini, setelah lulus SMA, orang tua akan menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi yang jaraknya bisa mencapai puluhan sampai ratusan kilometer dari rumah. Ini mungkin sebuah keterpaksaan atau bisa juga tuntutan zaman. Orang tua ingin melihat anaknya sekolah di perguruan tinggi. Bisa menjadi sarjana dan bekerja tidak sesusah orang tuanya.

Ada suatu masa ketika orang tua mengajari anaknya berdiri, berjalan, dan berlari. Ada suatu masa juga ketika si anak sudah bisa melakukan semua itu. Dan, ia menggunakan kaki-kakinya untuk “menjauh” dari orang tuanya. Ia berjalan dan berlari meraih cita-cita. Orang tua yang mengajarinya bagaimana caranya berdiri dan berlari mesti merelakan, kaki-kaki yang pernah ia tegakkan kini berjalan secara tegak dan berlari secara kencang meninggalkannya di rumah. Ia mesti rela kaki-kaki itu menuntun anaknya mengejar cita-cita yang pernah ia bisikkan di kupingnya. Kaki itu meninggalkan rumah, meninggalkan ia yang gelisah. Kaki yang selalu membersamainya saat masih belum tegak berdiri, kini justru meninggalkannya saat ia telah bisa tegak berdiri dan kencang berlari.

Foto: Monty | Lokasi: Komp. Masjid Raya Baiturrahman, Simpanglima, Semarang

Maaf kalau perumpamaan ini agak kurang tepat. Ini hanya usaha kecil bagaimana mencari makna di balik usia 18 tahun. Di mana pada tahun ini, Gambang Syafaat (GS) tepat pada fase itu. Ia sudah bisa berdiri secara tegak dan berlari secara kencang. Pada bulan Oktober lalu Mbah Nun berkata, ”Gambang Syafaat iki wis dadi.” Sebuah pernyataan sekaligus peringatan. Pernyataan akan kedewasaan dan peringatan beban akan kedewasaan.

Gambang Syafaat pada tahun ini sudah memiliki kuda-kuda yang kuat untuk berdiri, berjalan, dan berlari. Kita berkeinginan kuda-kuda yang kuat ini tidak digunakan untuk berjalan-berlari menjauhi “orang tua” yang telah melahirkan dan mengajarinya bagaimana menggunakan kaki yang baik. Jangan sampai ketika orang tua kita yang mengajari kita berdiri, berjalan, dan berlari, justru kita tinggalkan di saat kita sudah bisa berdiri, berjalan, dan berlari.

Berbagi

Gambang Syafaat berusaha kuda-kuda yang menopang kakinya untuk berdiri, berjalan, dan berlari, selalu digerakkan untuk mendekat ke “orang tuanya” dan sesepuh Maiyah. Pada peringatan ulang tahun ke-18 kali ini, Gambang Syafaat memperingati usia ini bersama sesepuh Maiyah dan “adik-adik” simpul Maiyah di Jawa tengah. Tidak ada yang bisa diceritakan selain suasana kegembiraan dan kekeluargaan. Puncak acara ulang Tahun Gambang Syafaat ditandai penyerahan potongan tumpeng yang dilakukan Pakde Mus kepada perwakilan Gambang Syafaat. Lalu dilanjutkan pembagian 18 ambengan kepada seluruh jamaah.

Acara makan tumpeng bersama diawali doa yang dibacakan oleh Pakde Mus. “Bismillahirahmannirahim, Gambang Syafaat menjadi penyeimbang Indonesia, sodaqoh terbesar Indonesia, dan menjadi tempat rekonsiliasi nasional, menjadi tempat wujudnya nasional. Semua yang ada di sini mendapat barokahnya Mbah Nun.” Serantak suara “amin” menggema dari tempat duduk jamaah.

Foto: Monty | Lokasi: Komp. Masjid Raya Baiturrahman, Simpanglima, Semarang

Pada acara ulang tahun ini, semua orang yang bergiat di Gambang Syafaat mengajak para jamaah untuk berefleksi. Capaian usia yang belasan tahun adalah masa yang pas untuk menengok bagaimana dulu kita dilahirkan. Pak Ilyas mengingat masa-masa di mana forum Gambang Syafaat dulu hanya dihadiri tidak sampai 25 orang. Beliau menceritakan kembali apa yang pernah dipesankan Mbah Nun kepadanya. “Gambang Syafaat itu Bambang Palgunadi,” kata Pak Ilyas menirukan Mbah Nun,” Kehebatan Bambang Palgunadi itu di atas kehebatannya Janaka. Tapi, sampai hari ini orang-orang mengira lelaning jagad itu Janaka bukan Bambang Palgunadi. Padahal seharusnya Bambang Palgunadi. Karena sehebat-hebatnya Janaka, dia pernah ditolak jandanya Bambang Palgunadi.”

Dalam cerita pewayangan, Janaka adalah muridnya Durna. Suatu ketika Bambang Palgunadi ingin berguru pada Durna. Karena Durna tahu kalau seandainya Bambang Palgunadi mendapat ilmunya, bisa-bisa kehebatannya melebihi Janaka yang juga muridnya. Maka, Durna membohongi Bambang Palgunadi untuk menyuruhnya membuat patung serupa dirinya. Dan, perintah itu dituruti Bambang Palgunadi. Setiap hari Bambang Palgunadi menyimulasikan patung itu seperti Durna. Seolah-olah patung itu benar-benar seperti Durna.

Dari cerita Bambang Palgunadi itu, Pak Ilyas melanjutkan, ”Ketidakhadiran Mbah Nun di simpul Maiyah Gambang Syafaat tidak bisa menjadi alasan kita untuk tidak bermaiyah. Karena kita harus seperti Bambang Palgunadi. Ketidakhadiran guru dihadirkan dalam bentuk lain dan tidak bisa menjadi alasan kita untuk tidak takdzim kepada beliau.”

Bentuk tokoh, sifat, dan watak Gambang Syafaat dalam kisah pewayangan sudah ditemukan Mbah Nun dalam wujud Bambang Palgunadi. Penemuan ini untuk mengingat bagaimana kita harus menjalani nilai-nilai hidup yang diajarkan Maiyah.

Salah satu alasan Gambang Syafaat bisa terus ada dari jamaah yang cuma 25 orang sampai ratusan, menurut Pak Saratri, karena keikhlasan. Itu semua bisa terjadi karena “Di Maiyah ini, kita merasa paling kotor. Kalau kita merasa paling kotor berarti kita akan terus berusaha menjadi yang paling baik. Keikhlasan menuju kebaikan yang menjadi sumbangan Gambang Syafaat untuk Indonesia.”

Foto: Monty | Lokasi: Komp. Masjid Raya Baiturrahman, Simpanglima, Semarang

Pada edisi kali ini, selain melakukan hajatan ulang tahun. Gambang Syafaat juga menyodorkan tema “Sedekah untuk Indonesia.” Tema ini menjadi pokok pembicaraan para pengisi. Habib Anis menyampaikan,”Sodaqoh berbeda dengan infaq. Kalau infaq lebih ke materi. Tapi kalau sodaqoh tidak. Kata dasar sodaqoh adalah sodiq. Sifat pertama rasul. Yang berarti benar. Kalau kita meyakini kebenaran bahwa yang ilmu kita miliki itu pemberian Allah. Maka, kita wajib membagikannya tanpa peru diperintah.” Keikhlasan berbagi yang perlu ditekankan dalam makna sedekah. Karena seiring perkembangan zaman. Kita sulit untuk berbagi. Itu terjadi karena menurut Habib Anis “dunia modern itu semangatnya memiliki. Kalau dunia rohani semangatnya membagi. Di Gambang Syafaat ini kita sedang mengakhiratkan dunia. Karena kita belajar berbagi apa pun tanpa diperintah dan tidak menerima bayaran. Inti sodaqoh itu membagi tanpa mengharapkan balasan.” Pada pokoknya bermuara pada sifat keikhlasan. Karena ditopang sifat-sifat keikhlasan itu, forum yang semula dihadiri puluhan orang menjadi ratusan orang. Dengan para pengisi yang datang dengan semangat berbagi dan semua jamaah yang datang menyimak tanpa menyisakan rasa rugi.

18 tahun perjalanan ini, Gambang Syafaat selalu berusaha memberi banyak hal dan tanpa memperkarakan apa yang ia beri. Ia selalu berusaha memberi yang terbaik lewat penyajian tema, uraian pengisi, dan kehadiran penghibur yang berganti-ganti. Semua itu akan terus ada karena pada peringatan ulang tahun kali ini, Gambang Syafaat sudah menegaskan akan terus bersedekah untuk Indonesia. (Yunan Setiawan).