Ada satu pernyataan yang unik dari salah satu penggiat Gambang Syafaat, Cak Nug alias penyair ”ora blas puisi”, saat beliau mengatakan kepada penggiat dan jamaah yang lain bahwa Gambang Syafaat harus menjadi rumah tak berpintu. Penyataan itu terkhusus bagi saya adalah temuan yang sangat menarik dan wajib hukumnya untuk ditelusuri maknanya lebih dalam. Pasalnya, apa yang kita sebut ”rumah tak berpintu” itu bisa kita anggap sekadar abab saja. Sebab, hampir rumah-rumah di desa dan kota selalu ada pintu yang difungsikan untuk menandakan ada atau tidak si pemilik rumah di rumah. Atau, bisa juga digunakan untuk mencegah maling gampang masuk rumah dan melindungi diri dari hawa dingin jika hujan dan debu jika kemarau panjang.

Kalau frasa ”rumah tak berpintu” kita artikan secara tekstual merujuk keadaan rumah yang tidak memiliki pintu. Barangkali kita mustahil menemukan rumah sejenis itu di kota atau kampung-kampung yang tersebar di kawasan Semarang. Sebab, hampir pasti setiap rumah selalu ada pintu. Tapi, saya kira Cak Nug mengucapkan pernyataan ”rumah tak berpintu” tidak untuk menganalogikan sebuah tempat yang terbuka dan didatangi siapa saja. Tetapi ”rumah tak berpintu” memang ada dan pemiliknya cukup filosofis memilih meniadakan pintu di rumahnya.

Dalam film ”Lari dari Blora” ada adegan apik dan sangat tepat jika kita jadikan rujukan untuk menguak lebih dalam makna ”rumah tak berpintu”. Adegannya hanya sepele. Samin yang diperankan Rendra sedang menjamu tamunya dengan membakar jagung di dalam rumah. Suatu ketika hujan lebat datang. Si tamu yang melihat kondisi itu berkata kepada si Samin.

”Mengapa pintunya tidak ditutup Mbah?”

”Mengapa ditutup kalau tidak ada daun pintunya,” kata si Samin.

”Mengapa tidak dikasih daun pintu Mbah”, tanya si tamu lagi.

”Mengapa dikasih daun pintu kalau ingin dibuka terus.”

Si tamu lalu diam sejenak dan merumuskan argumentasi untuk menyampaikan alasan betapa pentingnya pintu di rumah. Ia kembali menjelaskan bahwa manfaat pintu tidak sekadar dibuka dan ditutup saja, melainkan juga kalau hujan deras seperti ini bisa melindungi kita dari hawa dingin. Seperti yang kita duga, argumentasi itu tidak cukup kuat untuk meluluhkan hati Samin. Ia tetap membiarkan rumahnya tak berpintu dan bisa didatangi siapa saja. Soal pintu bisa melindungi si pemilik rumah dari cuaca buruk, Samin hanya berucap: ”Itu semua bagian dari kehidupan. Udara untuk kita bernapas, air untuk memelihara hidup kita, dan api untuk membakar jagung ini.”

Singkat cerita, rumah tak berpintu itu tetap menjadi hunian yang nyaman bagi Samin. Kekhawatiran-kekhawatiran kita akan rumah tak berpintu bisa mendatangkan pencuri ditanggapi dengan enteng si Samin. ”Mengapa harus mencuri kalau mau minta saja dikasih.” Begitu kira-kira ajaran Samin mengenai rumah tak berpintu. Kita tentu tidak secara saklek mempraktekkan apa yang disampaikan Samin dengan cara menghilangkan pintu di rumah masing-masing. Tetapi, kita bisa mengambil sarinya untuk memahami bagaimana konsep rumah tak berpintu itu.

Gambang Syafaat kita ibaratkan seperti rumah tak berpintu itu tadi. Ia terbuka kepada siapa saja yang datang bertamu, tidak membatasi siapa yang akan bertamu, dan selalu berpikiran baik kepada siapa saja yang datang bertamu. Entah nantinya ada orang yang memanfaatkan secara licik kelonggaran dan keluwesan tempat ini. Kesalahan itu tidak terletak pada tempatnya, tetapi pada tamu yang datang yang meninggalkan bara permusuhan.

Dalam proses menjadi rumah tak berpintu. Gambang Syafaat tidak pernah memersalahkan masa lalumu yang sehitam oli bekas rx king, tidak juga menyalahkan pilihan politikmu, tidak juga akan menyingkirkan anutan agamamu jika berbeda dari mayoritas masyarakat umum, dan tidak akan menolak atau mengusir manusia-manusia yang memiliki cara nyentrik menikmati hidup. Gambang Syafaat menyambutmu dan menerimamu sebagai manusia. Dan sewajarnya manusia adalah memiliki nurani yang bisa memilah mana kebaikan dan keburukan. Kita yang berkerumun di setiap tanggal 25 adalah manusia-manusia yang bisa berperan mewujudkan Gambang Syafaat seperti itu, yakni sebagai rumah tak berpintu.