Sebelum Maiyah ada. Sebelum Youtube tercipta. Pertemuan orang-orang dengan Cak Nun kerap dijembatan kolom-kolom di majalah. Era ketika koran dan majalah belum tergeser internet. Sosok Cak Nun mudah sekali kita temui di semua majalah yang ada. Durasinya memang tidak setiap terbitan ada. Namun, paling tidak hampir semua majalah itu pernah memuat tulisan atau memuat berita tentang Cak Nun. Salah satu majalah yang kerap memuat tulisan Cak Nun adalah majalah HumOr. Di majalah ini Cak Nun memiliki kolom khusus bagi dirinya.

Di majalah HumOr edisi 23 Desember 1995-12 Januari 1996, pembaca mendapat pengumuman yang menyenangkan tentang Cak Nun:”Setelah Mati Ketawa Cara Maduran-nya, kini tampil dalam ”Bunuh Diri Gaya Saridin!””. Pengumuman mengabarkan seri esai humor Cak Nun dengan tema terbaru. Selesai dengan humor bercorak orang Madura. Cak Nun mengajak pembaca untuk mengenal tokohnya bernama Saridin. Perpindahan dari orang Madura ke Saridin mengesankan Cak Nun sebagai penulis yang memiliki stok tulisan humor berlimpah.

Pengumuman dihadirkan beserta foto Cak Nun berambut kriting dan berkumis tebal. Pengenalan toko Saridin kepada pembaca berbarengan dengan foto Cak Nun malah membuat pembaca gampang mengandaikan sosok Saridin itu Cak Nun. Pengandaian itu tentu sah dan tidak melanggar undang-undang. Setiap pembaca bebas membangun gambaran tokoh dari cerita yang dibacanya.

Esai humor dari seri ”Bunuh Diri Gaya Saridin” termuat di majalah HumOr edisi 27 Januari-9 Februari 1996. Esai itu berjudul ”Nostalgia dengan Monyet.” Cak Nun memanfaatkan kesempatan pemuatan perdana untuk mengenalkan Saridin. Cak Nun menulis:”Sebelum saya tuturkan episode-episode Saridin di berbagai era sejarah saya peringatkan dulu agar Anda jangan kaget oleh satu hal dan jangan remehkan satu hal yang lain.”

Di esai perdana ini Cak Nun bercerita penggunaan dan makna nama Saridin. Dari amatan Cak Nun, beliau menemukan banyak daerah perkotaan dan pedesaan didatangi pertunjukkan topeng monyet. Yang unik dari pertunjukkan itu bukan pada gaya monyetnya memainkan skenario sang juragan. Namun, bagaimana masyarakat bisa melahirkan bahasa yang khas dari pertunjukkan topeng monyet. Setiap ada pertunjukkan topeng monyet orang-orang akan memanggilnya ”Saridin pergi ke pasar.” Dan dengan variasi kalimat yang lain, misal Saridin pergi ke rumah sakit atau ke rumah dukun. Nama pelakunya tetap Saridin. Nama itu sudah dianggap pas untuk menamakan monyet. Jadi, kalau ketemu monyet akan dipanggil Saridin.

Kelaziman inilah yang coba diganggu Cak Nun. Beliau tidak menyalahkan masyarakat tapi mengajak pembaca dan masyarakat untuk iseng berpikir ulang tentang kegampangan kita mengidentikkan Saridin dengan monyet. Bagi orang yang tidak memiliki nama Saridin tentu tidak menjadi soal. Namun, bagi orang yang kebetulan bernama Saridin bisa menjadi beban moral. Orang yang bernama Saridin mungkin merasa malu, rendah diri, karena namanya sudah telanjur diidentikan dengan monyet.

”Padahal”, menurut Cak Nun,”Saridin itu seindah-indah nama di muka bumi ini. Dibandingkan nama schumacher yang berarti tukang sepatu atau Siti Hayyatun Tas’a yang berarti ular hidup, Saridin memiliki keistimewaan yang tak tertandingi. ’Sari’ itu artinya inti. The essence. Haqiqat. ’Din’ artinya agama. ’Saridin’ berarti inti agama. Hakekat agama. Kurang apa, coba? Jadi kalau Anda tidak ingin kuwalat, jangan main-main dengan Saridin saya ini.” Hayo masih berani bilang ”Saridin pergi ke pasar” lagi?