Kelompok muda mendominasi pemandangan Maiyahan di banyak tempat di tahun-tahun terakhir ini. Era bonus demografi memang sudah tiba. Postur tergendut dari populasi penduduk negeri ini didominasi oleh generasi Milenial. Syukurlah mereka tak sukar untuk menjadi akrab dengan forum yang menjadi magnet bagi para pencari ilmu, Maiyahan.

Lebih dari seribu Maiyahan berlangsung di tahun ini. Maiyahan kemudian melahirkan generasi Maiyah. Yakni generasi yang disebut oleh Mbah Nun sebagai generasi yang bukan menjadi generasi penerus, melainkan mereka adalah generasi pembaharu.

Mereka mencari apa yang benar, bukan mencari siapa yang benar. Mereka tidak sibuk pada bentuk, sebab bentuk itu jasmani, sedangkan yang lebih ruhani adalah fungsi. Nilai-nilai tersebut adalah contoh dari nilai-nilai Maiyah yang masuk di nalar, mudah dicerna dan memenuhi hasrat perubahan yang menjadi watak dari generasi Milenial. Maka pantas jika mereka mudah untuk tersinkronisasi dengan adanya Maiyahan.

Gambang Syafaat lahir di awal-awal masa paska reformasi. Zaman dimana internet masih asing, berita masih sentralistik. Ketika zaman bergerak dengan begitu cepat, para Penggiat dari Simpul Maiyah di Kota Semarang ini tak jengah untuk beradaptasi. Bongkar pasang format forum, silih berganti menjadi narasumber dan membaur ke dalam masyarakat teknologi informasi pun dilakukan. Maka jangan heran kalau tagarnya tak kalah tanding di dunia maya, forumnya menjadi rujukan tempat ngangsu kawruh bagi simpul-simpul Maiyah yang lebih muda, even Bangbang Wetan Surabaya dahulu di awal terbentuk ngangsu kawruh bab olah forumnya ke Gambang Syafaat.

Pada awal terbentuk 19 tahun yang lalu adalah masa di mana orang-orang baru bangkir dari Krismon, tsunami kebangkrutan massal dan air bah PHK besar-besaran membuat orang-orang dipaksa memutar otak habis-habisan untuk tetap melanjutkan nasib hidupnya. Jika kemudian ada inisiatif dari orang-orang untuk membentuk forum diskusi, jelas bukan sebab selo, melainkan berangkat dari niatan serius untuk nyinaui hidup dengan segala problematikanya secara lebih kontekstual.

Begitulah, kemudian Maiyahan ini bertumbuh sebagai panggung interaksi, bukan semata panggung ekspresi sebagaimana panggung-panggung budaya yang lazim kita jumpai hari ini. Bukan juga majelisnya para penghobi diskusi. Sebab rasa-rasanya lucu kalau ada orang kok hobinya diskusi. Melainkan mereka yang berforum dengan sebegitu menikmatinya, disebabkan mereka sungguh-sungguh mendiskusikan bab-bab pembelajaran hidupnya yang sedang dihadapi.

Dari kejauhan Jamaah Maiyah memandang, mungkin dianggapnya para Penggiat Gambang Syafaat tak lebih dari sekadar sekumpulan panitia pengajian. Namun, bagi yang bersedia melibatkan diri lebih dekat, maka akan terlihat bagaimana persaudaraan diantara mereka yang diikat oleh kesamaan nilai-nilai kemudian mewujud menjadi kolaborasi-kolaborasi.

Mereka bertukar keahlian, mereka berbagi peluang, merancang gagasan karya bersama-sama. Sepi ing pamrih, rame ing gawe dengan segenap cerita gagal dan berhasilnya. Baju perlente tidak menjadi ukuran, jenis profesi tidak menjadi strata, itu sudah menjadi atmosfir yang kondusif bagi lahirnya inisiatif-inisiatif untuk pertumbuhan bersama bagi para Penggiat.

Jadi tidak hanya mereka bertemu sekali dalam sebulan, sesudah itu kabur-kanginan sendiri-sendiri. Tidak seperti itu saya rasa keadaanya, baik hari ini maupun 19 tahun yang lalu. Melainkan mereka membuat rumah besar bersama, untuk bertumbuh bersama, siang dan malam. Bahasa ‘serem’nya adalah seperti wejangan Pak Toto Raharjo di Silatnas Baturraden lima tahun yang lalu, membangun komunitas sebagai benteng terakhir dari pendudukan globalisasi.