blank

Di dalam menjalani kehidupan dari dahulu sampai saat ini, memang tidak selamanya nasib ataupun takdir seorang manusia pada garis yang sama. Mungkin kemarin kita lagi bernasib baik, mendapat rezeki yang melimpah, mampu memiliki apa yang sedang kita inginkan, tetapi bisa saja semuanya tadi diubah atas kehendak Allah Yang Maha Menentukan semua ini. Nasib kita yang kemarin lagi baik atau mujur bisa berubah menjadi sebaliknya.

Saat kita diberi ujian oleh Allah, kita sanggup menghadapinya atau tidak. Pasti setiap manusia sanggup menghadapi ujian tersebut. Memang Allah tidak akan memberi cobaan yang melebihi batas kemampuan manusia. Allah sendiri memberi ujian kepada manusia pasti akan ada hikmah di balik peristiwa ujian itu. Hidup itu setiap manusia pasti akan menghadapi masalah dan ujian. Terhadap masalah yang dihadapi, kita bisa mencoba menghadapinya langsung atau bisa juga kita menghadapinya, namun tidak berhadapan dengan masalah tersebut. 

Inna ma’al ‘usri yusraan(Sesungguhnya bersama kesulitan itu disertai kemudahan). Memang bersama kesulitan disertai kemudahan, tapi kita juga harus mencari solusi setiap masalah yang kita hadapi, bukan hanya bergantung pada Allah saja. Karena setiap masalah yang datang belum tentu dari Allah, bisa juga masalah itu datang karena kesalahan kita sendiri. Kalau masalah yang datang dari Allah adalah hukuman, peringatan dan ujian buat kita. Apabila diberi masalah-masalah tersebut kita masih dekat dengan-NYA atau malah sebaliknya. Karena hukuman, peringatan dan ujian Allah kepada manusia memang berbeda-beda, ada yang berat dan juga ada yang ringan.

Mbah Nun sendiri juga pernah menyampaikan, kalau kita mengalami kesulitan atau sedang ditimpa musibah biasanya berhubungan dengan tiga hal, yaitu hukuman, peringatan dan ujian. Kalau kita di hukum, kita cari salah kita apa, jangan mengulangi lagi agar tidak salah lagi. Kalau diberi peringatan berarti kita kurang waspada, kurang berhati-hati, dan saat kita di beri ujian berarti kita akan lebih bermutu, pintar dan teliti. Bisa saja Allah meningkatkan derajat kita sebagai hamba-Nya.

Pepatah mengatakan “Kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda”. Tetapi kata Mas Sabrang, kegagalan itu bukan keberhasilan yang tertunda, melainkan kegagalan adalah keberhasilan yang tidak terjadi. Pelajarilah setiap kegagalan kita sendiri. Di setiap kegagalan carilah letak kesalahan dan kekurangannya. Apakah kegagalan hari ini merupakan rejeki atau musibah bagi kita. Karena setiap kegagalan bisa berupa rejeki dan musibah yang dihadirkan Allah kepada kita, tergantung bagaimana sudut pandang kita menyikapinya. Dari kegagalan itulah dikit demi sedikit kita akan mengerti sebuah arti keberhasilan.

Mbah Nun juga menuliskan di Tetes. Terkadang Tuhan meletakkan rahmat-Nya di tempat-tempat yang sama sekali tidak menarik bagi manusia. Terkadang Tuhan menyembuyikan anugerah-Nya di balik momentum yang tak terduga oleh siapa pun. Terkadang Tuhan melakukan penyelamatan, memberikan rejeki, serta menjanjikan rahasia-rahasia, di belakang suatu kejadian yang seakan-akan bernama musibah atau kecelakaan. (Tetes – Seakan Musibah)

Masalah kegagalan memang setiap manusia pasti pernah mengalaminya, tetapi masalah rezeki memang semua itu berasal langsung dari Allah, tidak ada rezeki yang tidak berasal dari Allah. Pekerjaan kita bisa dikatakan sama hari ini, besok dan seterusnya ataupun usaha kita berdampingan. Namun rezeki setiap manusia memang berbeda-beda. Jangan pernah memperebutkan masalah rezeki, karena rezeki itu sudah ada Allah yang mengaturnya. Terhadap ujian maupun rezeki kita pasrahkan dan bersyukur kepada Allah Ta’ala. Lebih baik bersyukur saja atas ujian maupun rezeki yang dikasihkan kepada kita oleh Allah Ta’ala

Manusia diciptakan memang untuk tangguh, mereka bisa saja mencari nafkah untuk dirinya sendiri ataupun untuk keluarga sewaktu-waktu. Hari ini mungkin belum dapat rezeki, tetapi di lain hari bisa mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Memang seandainya dipikir mendapat rezeki berupa uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari atau satu bulan, kadang belum tentu cukup, namun nyatanya selalu cukup. Bisa jadi hari ini belum ada rezeki, esoknya hari selalu ada rezeki yang datang. “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah“. (QS Al Baqarah : 172)

Allah memang Maha Pemurah dan Maha Penyayang kepada setiap hambanya. Rezeki itu bukan hanya sekedar uang ataupun harta, pekerjaaan dan jabatan. Tetapi juga segala bentuk nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada kita baik berupa sandang pangan, tempat tinggal, orang tua yang bertanggung jawab dalam mendidik kita, suami atau istri, anak laki-laki maupun perempuan, sahabat yang baik, pendengaran, pengelihatan, kesehatan, kebahagiaan dan lain sebagainya.

Sebagai orang yang beriman, wajib bagi kita mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita. Setiap detik, menit, jam, hari kita selalu diberi nikmat yang tak terhingga. Jika kita menghitung segala nikmat Allah dalam satu hari saja, niscaya kita tidak sanggup menghitungnya. Maka, bersyukurlah kepada-Nya, karena dengan banyak bersyukur niscaya akan Allah tambahkan nikmat-Nya kepada kita.

Jepara, 25 Maret 2018