Foto: Monty (Dok. GS) | Komp. Masjid Baiturrahman, Simpanglima, Semarang | 25 Februari 2018

Tema Gambang Syafaatkali ini (25/02) adalah “Menimba pada Cermin”. Malam makin ramai, kopi gambang mulai menguap dan mengepul diantara shaf-shaf jamaah yang tetap istiqomah mengikuti Maiyah. Kang Ali mengatakan, “Dikatakan bahwa cermin salahsatu fungsinya adalah untuk melihat hal-hal yang tidak terlihat dan cermin yang bersifat rohaniyah. Masyarakat adalah cerminan dari sebuah bangsa, dan bangsa adalah cerminan dari suatu peradaban, dan lain-lainnya. Dan hal-hal ruhaniyah itu terkadang sulit dilihat dan kita membutuhkan cermin itu dan bagaimana cara untuk membacanya”.

Beberapa menit kemudian Pak Illyas dan Pak Saratri bergabung bersama jamaah, menyeduh kebahagiaan di Bulan Februari ini. Lalu giliran Pak Illyas untuk sharing tentang tema malam ini. “Cermin itu penting, kalau kita tidak memiliki cermin kita tidak akan mengerti diri kita sendiri, keluarga, pemerintahan kita. Ya kalau Anda kuliah yaitu cerminan Perguruan Tinggimu. Cermin, kalau kita lihat secara fisik, yang kita tonton ialah fisik kita. Namun kalau kita tidak pernah bercermin, kita tidak pernah punya pembanding. Kan manusia disini bukan persoalan fisik.Tapi tentu cerminan puncaknyaadalah kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.”

Kata pak Ilyas Dalam bercermin kita juga harus hati-hati, misalnya kita bercermin kepada Kanjeng Nabi, tetapi cerminnya hanya yang enak-enak saja. Inilah sering terjadi. Orang-orang di dunia, sekarang yang dicari adalah uang, materi. Begitupun mahasiswa, lulus kuliah ingin jadi pegawai negeri, ingin kaya, terus dekat dengan penguasa, dan lain-lain. Tidak ada yang berkeinginan rohaniyah, semisal ingin menjadi orang yang bermanfaat. Silahkan, hidup ini kan luas sekali, kamu bercerminnya, puncaknya pada siapa? Rumangsane yen wes nduwe duit iku bahagia? Nduwe kuoso wes bahagia. Sekarang memilih pendidikan saja, memilih jurusan kuliah pasti yang berbau materi, ekonomi, kedokteran, dan lain-lain. Kita lihat sekarang, fakultas sastra, adab, juga ushuluddin sepi peminat. Dirumah, orang tua pasti menanyakan, bagaimana ini nanti masa depannya? Ya kalau kita tahu masa depan kenapa kita kuliah?

Kalau tidak hati-hati dalam memilih cermin nanti kamu keliru dalam becermin. Contohnya banyak, isin dadi wong Gunungpati, pengen dadi wongSemarang, wes dadi wongSemarang, sesuk pengen dadi wongJakarta, wes dadi wongJakarta, sesuk kepengen dadi wongAmerika.

Disisi kiri lokasi GS berlangsung, beberapa jamaah mulai memarkirkan kendaaan, ada yang langsung melingkar bersama, ada pula yang mampir sebentar untuk membeli kopi gambang dan melihat-lihat marchendise GS, serta buku-buku karya Cak Nun yang tertata rapi. Pak Illyas yang mengenakan sarung hitam serta berpakaian hitam melanjutkan diskusi dengan jamaah.

“Ya sekarang carilah cerminmu, cermin itu penting. Tetapi jangan sekali-sekali membuat cermin materi, carilah cermin rohani. Wong urip kok pengen sugih, apike wong sugih ki opo? Manusia dimanapun iyu banyak diuji, dan tidak lulus oleh ujian materi. Sekarang yang menguasai dunia dan Indonesia adalah mereka yang menguasai modal. Tapi orang Maiyah tidak begitu peduli dengan materi, materi itu penting, tapi ora nemen-nemen”. Kata pak Ilyas.

Diakhir kata Pak Ilyas mengatakan, “Kalau kita bercermin, ya jangan sampai keliru memilih cermin. Makanya acara diskusi dimanapun penting untuk diikuti. Kalau kamu ke kampus, atau pasar bawalah cermin yang benar. Cara berjualan yang benar bagaimana, cara hidup yang benar bagaimana.”

Pak Saratri memaparkan hasil renungannya terkait tema GS kali ini. “Bicara soal cermin, itukan ada dua. Yang penting niatnya, pertama, dengan bercermin kita meneliti dan introspeksi terhadap diri sendiri atau bisa juga malahgembagus, rumangsa apik dewe, rumangsa sempurna, sehingga dia merasa paling sempurna dan paling benar. Kata kunci Islam adalah bercermin, selalu membaca situasi, diri sendiri, dan alam semesta. Kedua adalah berpikir, bercermin dan berpikir apa yang jadi kekuranganku, kelompokku, masyarakatku, dan negaraku. Bangsa kita bisa tertib hanya dalam lingkungan-lingkungan formal, coba di tempat lain, di jalanan,Islam sudah tidak ada lagi. Pilkada Islamnya ya cuma di spanduk”.

Dengan berpakaian santai, berkemeja putih dan bercelana jeans, Pak Saratri melanjutkan diskusinya, “Kalau merasa paling benar sendiri, dia dalam bercermin dia merasa paling bagus, ini masalah di Indonesia. Media masa ini juga cerminan, siapa yang ada dibalik mereka. Kita selama ini bercerminnya pada media massa dan sosial yang buram, tidak bisa digunakan untuk bercermin. Kata kuncinya yakniiqra dan berpikir harus selalu kita jadikan pedoman. Sekarang banyak orang sekolah tapi tidak belajar. Jadi ada dua kunci, niatmu, untuk membaca atau untukmbagusi awake dewe”. (Malik)