Saya tidak akan berdebat perihal imsak secara bahasa, atau apakah di zaman nabi ada imsak atau tidak. Bagi saya, imsak yang “nyisip” di antara sahur dan azan subuh adalah semacam “masa transisi” atau bisa juga mirip “injury time” dalam sepakbola.

Kalau imsak dianggap sebagai masa transisi, seperti umumnya masa transisi, maka adanya imsak adalah latihan, pengondisian untuk memasuki masa yang akan dijalani. Di tentara ada yang dinamakan mpp (masa persiapan pensiun), itu dimaksudkan untuk melakukan perubahan “gaya” dari militer ke sipil, dari dulu punya jabatan, menjadi orang biasa, tujuannya tentu biar tidak kaget.

Berbeda nuansanya kalau imsak itu, diperlakukan seperti ‘injury time’ dalam sepakbola, ada semacam “kerahkan semuanya mumpung belum kelar betulan”. Jadi kalau di dalam imsak yang berfungsi seperti “injury time’, orang tidak menyiapkan untuk “episode” selanjutnya, tetapi melampiaskan mumpung masih di episode yang sekarang. Maka saat imsak dipuas puasin sahurnya.

Lalu, bagaimana sebaiknya saat imsak, apakah menjadikannya sebagai masa transisi, ataukah sebagai semacam “injury time”. Bagi saya sederhana, kalau pas normal tentu kita jadikan sebagai masa transisi, tapi kalau pas sedang kesiangan misalnya, maka imsak adalah masa “injury time”. Boleh begitu? Anda akan ditertawakan, wong imsaknya saja masih menjadi tema diskusi kok.

Saya menduga, kalimat idul imsak adalah pintu untuk memasuki bulan-bulan setelah Ramadhan, utamanya saat Idul Fitri. Apakah kita menyiapkan sikap mental melampiaskan, mumpung sudah tidak puasa sebagaimana saat “injury time”, ataukah kita memasang kuda-kuda transisi, bahwa sesungguhnya setelah puasa, tetap melakukan masa persiapan, persiapan untuk puasa dalam arti yang lebih luas di bulan-bulan selanjutnya.

Mengapa kok idul imsak? Saya selalu mengatakan, tema di Maiyahan adalah hanya salah satu unsur yang dijaga dari beberapa unsur lainya. Setidaknya ada tiga dimensi di Maiyahan: spiritualitas, intelektualitas dan kegembiraan. Maka di Maiyahan ada munajatnya, ada diskusi tematiknya, dan ada kesenian dan hiburan. Maka kalau orang-orang sudah berkumpul, bersama-sama berkubang dalam tiga dimensi itu, ya itu Maiyahan sebagai acara.

Jadi, kenapa idul imsak? Kalau masih hanya mengajukan pertanyaan saja, mending nonton acara diskusi di televisi saja. Ini, Maiiyahan, bukan forum diskusi semata-mata.