Foto: Galih Indra Pratama

Malam itu orang lalu lalang melintasi jalan menuju desa Bawu. Tentunya wajar jika orang melintasinya karena memang itu jalur utama. Namun yang membedakan adalah tidak sedikit dari pengendara mengenakan Peci Maiyah dan dipadu dengan baju putih. Nah, ini penanda bahwa para pengendara tersebut pasti menuju acara Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng. Mengikuti mereka menjadi alasan bagiku agar sampai di lokasi. Akhirnya, mendekati lokasi acara, banyak jamaah yang baru berdatangan. Di akhir Agustus 2018, Cak Nun dan KiaiKanjeng berkelilin di tiga kota di Jawa Tengah. Pertama, 29 Agustus di Kedal, kedua, 30 Agustus di Jepara, ketiga, 31 Agustus di Grobogan. Saya berkesempatan mengikuti Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di desa Bawu, kecamatan Batealit, kabupaten Jepara yang diselenggarakan oleh Mas Yusron dalam rangka Khaul Bapak Haji Muchlas bin Haji Wiro dan Ibu Hajah Dewi Sutikah Binti Haji Fablun. Sedangkan di Kendal dan Grobogan tidak bisa mengikutinya. Saat tiba di lokasi, acara Sinau Bareng sudah berlangsung. Hal ini sudah saya sadari karena setiap Sinau Bareng bersama masyarkat pasti mulainya lebih awal dibandingkan dengan acara di Maiyah.

Memasuki lokasi acara, para jamaah di belakang duduk dan serius serta ada juga yang agak serius bahkan pura-pura serius memandangi layar yang sudah disiapkan panitia. Melalui layar itulah mereka bisa memandang dan mengetahui Mbah Nun menyampaikan ide-idenya dan KiaiKanjeng mendendangkan nada-nada merdunya. Ternyata, posisi panggung tidak terlihat dari belakang. Hal ini dikarenakan lokasi acara di jalan desa sehingga sangat sulit terlihat banyak jamaah yang duduk berderetan. Meskipun posisi usel-uselan tidak menjadi persoalan, yang penting adalah niat dan keikhlasan para jamaah karena Yang Maha Kuasa.

Sekitar lima menit saya duduk, Mbah Nun memberi kesempatan para jamaah untuk menyampaikan gagasan, keluhan, curhatan, dan apa pun itu namanya asalkan berdasarkan nilai dan norma. Para jamaah pun sangat antusias dengan mengangkat tangan ke atas. Antusiasme jamaah dalam menyampaiikan gagagsan tetap harus dibatasi. Mulanya Mbah Nun menghendaki lima penanya dulu kemudian diselingi nada-nada dari KiaiKanjeng dan berlanjut lima penanya berikutnya. Selesai pertanyaan, barulah Mbah Nun merespon beragam pertanyaan, baik satu per satu maupun secara kolektif. Akhirnya, pertanyaan berlanjut mulai dari nomer 1-12 tanpa ada jeda nada dari KiaiKanjeng. Pertanyaannya pun beragam mulai dari politik, agama, Umbu Landu Paranggi, bahkan surga dan lain sebagainya.

Terdapat pertanyaan yang sangat menarik dari jamaah. Fahim namanya, identitas asalnya tidak disebutkan. Kenapa Mbah Nun tidak jadi Presiden. Padahal Bangsa ini membutuhkan sosok seperti Mbah Nun. Ungkapnya. “Janganlah kalian menawarkan diri dalam kekuasaan. Selama ini saya berpuasa terhadap kekuasaan”. Tutur Mbah Nun.

“Sedulurku semua jangan khawatir Bangsa Indonesia akan hancur. Tujuan saya berkeliling bertemu jamaah hingga ke sekian ribu pertemuan tidak lain adalah agar generasi baru dikasihi oleh Allah. Niat, kehadiran dan keikhlasan para jamaah menjadi bukti tiba di lokasi ini. Jika ada orang yang dikasihi oleh Allah, cobaan dan musibah tentu akan disingkirkan. Tuhanpun tidak akan rela jika para kekasihnya ditimpa kesusahan. Dalam Al-Quran, generasi baru disebut Qoumun Akhor. Kalianlah para generasi yang akan menjadi pemimpin dan merubah masa depan yang lebih baik”

Di sela-sela merespon pertanyaan dari para jamaah, Mbah Nun memberi semangat kepada para jamaah khususnya warga Jepara. “Kalau ingin belajar toleransi, belajarlah kepada orang Jepara karena dulu kabupaten Jepara merupakan tempat transit para tamu dari kerajaan Majapahit dari berbagai negara. Oleh sebab itu, masyarakatnya sudah biasa beroleransi. Di Jepara banyak tempat penginapan. Makanya dinamakan Jepara”. Tutur Mbah Nun.

Bukankah sudah banyak pembelajaran yang sudah dijelaskan. Misalnya, kisah kaum Nabi Nuh yang diterjang oleh banjir karena tidak percaya terhadap ajaran yang didakwahkan. Dan hanya orang-orang yang berimanlah yang selamat. Kaum Kafir pada masa itu banyak yang menyembah patung dan menganggapnya sebagai tuhan mereka. Hikmah yang dapat diambil dari kisah ini adalah kekasih Allah disakiti oleh kaum kafir sehingga Allah menurunkan ujian kepada mereka. Maka janganlah menyakiti kekasih Allah.

Selain itu, kisah Nabi Muhammad dan Sahabat Abu Bakar As-Shiddiq ketika berhijrah ke Kota Madinah dikejar oleh kafir Quraisy dan bersembunyi di Gunung Tsur. Sahabat Abu Bakar khawatir jika Nabi Muhammad tertangkap oleh kaum kafir. Kekhawatiran Abu Bakar sebenarnya tidak takut terhadap orang kafir, tetapi yang ditakutkan adalah jika Nabi Muhammad disakiti oleh mereka sehingga akibat ulah mereka, tuhan menurunkan ujian.

BERBAGI
Muhamad Muhajir
Direktur Vokal Institut Semarang.