Mendaki pada angka 19 memfilosofikan banyak hal serta banyak harapan. 19, angka spesial yang juga digunakan Tuhan untuk menyempurnakan Firman PertamaNya pada surah Al-`Alaq yang berjumlah 19 ayat. Rasulullah yang menerima wahyu dari Malaikat Jibril menggigil kedinginan bercampur dengan kegelisahan dan kekhawatiran akan peristiwa itu. Selepas 2 kali gagal untuk bisa membaca, hingga ketiga kalinya Malaikat Jibril mendekap tubuh Beliau dengan kuat. Mungkin saat itu Malaikat Jibril sudah mengetahui bagaimana beratnya tugas Rasulullah Muhammad Saw di dunia hingga hari akhir nanti.

Hari itu menjadi saat teramat bersejarah dalam peradaban manusia. Gua Hira di Puncak Jabbal Nur, Makkah menjadi saksi periode kenabian (Nubuwwah) Kanjeng Nabi. Iqra’ hingga ujung usiapun mungkin tak pernah selesai kita membaca kehidupan ini. 19 tahun lalu, beberapa saat pasca Reformasi 1998, Mbah Nun bersama para sesepuh berijtihad, mengajak bersama-sama rakyat Indonesia untuk melingkar, iqra’. Membaca dan Sinau kembali memahami apa yang sedang terjadi dengan wilayah minimalnya berada di lingkar kota Semarang yang tak lain juga merupakan ibu kota provinsi Jawa Tengah. Membaca diri, membaca Indonesia, Dunia bahkan Meneropong di Balkon Zaman hingga akhirat nanti. Sedang 2012 lalu Pak Saratri turut berpesan pada Gambang Syafaat untuk juga tak melewatkan dua perintah Maha penting dari dalam Qur`an yakni Iqra` dan berpikirlah.

19 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk kesetiaan dan keistiqomahan yang telah dipersembahkan oleh Gambang Syafaat. Setiap tanggal 25 di Masjid Baiturrahman Semarang menjadi saat paling dinanti dengan heroiknya oleh para jamaah dari berbagai penjuru baik di Semarang sendiri maupun dari daerah lain. Mereka mengikhlaskan jiwa dan raganya iqra` kembali, bersungguh-sungguh memahami arti kehidupan. Mulai dari memetakan diri, serta potensi hingga termasuk harapannya nanti bisa menjadi ahli di masing-masing bidang yang digeluti seperti Dhawuh Mbah Nun.

Maiyah, laboratorium di atas level Universitas dengan segala bentuk karakter orang dan masalah di dalamnya insyaAllah akan terus diamanahi Allah untuk menemani Indonesia bahkan memangku dunia. Rumus-rumus kehidupan yang setiap malam telah orang-orang Maiyah diskusikan sejatinya telah mampu menjadi pagar penyakit kapitalisme zaman dan globalisasi dunia yang semakin menjauhkan manusia dari Allah dan Rasulnya. Maiyah menawarkan obat penghalau toksin-toksin kehidupan serta jutaan tipuan artifisial semu yang setiap hari gencar diselubungkan hingga menjadi racun yang bersarang di otak generasi masa depan. Maiyah menjadi tameng-tameng penjajahan psikologis internasional pengkerdilan manusia-manusia garuda yang sampai hari ini masih tidak meyakininya. Hingga mereka merasa bahwa mereka adalah bangsa emprit. Terus berjalan dan temanilah Indonesia wahai Tali-Tali Cahaya Allah dalam Gambang Syafaat. Alles gute zum geburtstag.

Nafisatul Wakhidah
19 Desember 2018
Baden Württemberg, Jerman