Bagi kaum beriman, kesadaran akan rutinitas yang mayor dialami manusia adalah berpikir. Berpikir tidaklah melulu penyertaaan ideologi diri yang seolah dipahami dari titik gerak gerik individual saja. Tetapi, komunalitas keseimbangan mekanisme alam layak diperhitungkan. Misalnya, manusia saja diciptakan melalui peristiwa yang sangat rumit dibandingkan dengan makhluk lain. Semua unsur ciptaan makhluk ada di diri manusia. Tanah, udara, api dan air, semuanya bermukim dalam persifatan manusia. Bagaimana mungkin manusia tidak bisa tidak menciptakan keseimbangan juga.

Manusia dalam tipologi penciptaan disebut “insan”. Kata itu berselaras dengan supremasi penciptaan manusia, yaitu harmoni. Namun, kini ia tidak henti-hentinya dipahami hanya sekadar kecapan mulut saja.

Seolah-olah manusia dirasiokan hanya wujud fisik yang terlihat. Apa yang terjadi kiranya? Sebuah ketidakcermatan dalam berpikir dan membaca jatidiri yang bergelimang ketidakpastian.

Kecenderungan membaca materialisme lebih ngotot daripada immaterialisme. Itulah sebabnya manusia Nusantara pelan-pelan dibinasakan daya baca, daya pikir dan kepercayaan diri mereka. Entah siapa yang melakukan, yang jelas masih ada benih-benih Abu Jahal yang berkeliaran dan bersemayam di ruang-ruang ‘thughyaniyyah’.

Membaca adalah pernyataan sikap terhadap realitas. Dalam situasi apapun tanpa melinearkan objek pandang, semua akan bergerak siklikal menempati posisi yang sedia. Nabi Muhammad menerima wahyu “iqra” dimaksudkan dan ditujukan menjadi uswah bagi ummat agar setia dan terus menerus bergerak tanpa henti akan pembacaan ketidakterbatasan menuju Allah. Sebagai subyek yang mengendalikan, Allah sengaja memosisikan af’al wa shifat-nya agar selalu dicari dan disertakan.

Kata iqra` merupakan bentuk imperatif atau khithob untuk mengkhithobi Nabi Muhammad dan juga ummat. Hierarki kata iqra` menapaki lapisan pemaknaan yang begitu (tak) sukar dipahami. Hal itu menyangkutpautkan arah epistemologis yang tiada henti.

Sebagaimana iqra` memiliki turunan kata qiro`ah yang tentu amat sangat berbeda sekali dengan tilawah. Jika tilawah berhenti pada kekhususan membaca teks bunyi, maka qiro`ah meluas pada pemaknaan teks, non-teks, konteks, maupun mekanisme ruang-ruang atau realitas apapun yang disebut penciptaan.

Kalau hanya sekedar tahu bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa, itu belum seberapa pengetahuan manusia tentang manusia itu sendiri. Manusia itu ‘nuqthoh markaziyyah’ bagi alam semesta. Manusia bisa menjalin hubungannya dengan manusia, manusia dengan makhluk lain dan manusia dengan alam.

Al-Qur’an itu “la raiba fihi”. Bukankah salah satu wujud ketaqwaan adalah mengimani ghaib. Bukankah juga Allah ‘alimul ghaib wasysyahadah. Itu artinya manusia diakurasikan bagaimana semestinya mereka mengoptimalkan keimanannya.

Kesadaran bahwa mengimani ghaib adalah bagian elementar yang harus digapai manusia, semestinya itulah yang selalu harus diemban dan dirasukkan ke dalam diri manusia.

Jika tidak demikian, sesungguhnya kita sedang berada di alam dajjaly. Kita sedang terperangkap oleh jebakan dajjal. Fenomena dajjaly dimana kita diburamkan, dikelabuhi, ditutup, bahkan di-talbis sehingga kita selalu memandang hanya dengan satu mata. Selanjutnya kita akan tidak sadar bahwa logika kita dibalik. Kita hanya difokuskan terhadap objek yang menata ukuran, tidak lagi menaruh dan “ruj’an” kepada subjek sesungguhnya.

Tak akan ada lagi kemampuan membedakan mana batu mana permata. Tak ada lagi bisa membedakan mana laki-laki mana perempuan. Lebih parah lagi, tak bisa lagi membedakan subjek dan objek sejati. Pengelabuhan satu mata meletakkan pada hilangnya komprehensi nilai-nilai jatidiri maupun serba serbi historisnya.

Semua serba manipulatif. Apa saja kemudian diselimpung sehingga kebatilan nampak kebenaran dan kebenaran nampak kebatilan. Kelakar-kelakar demikian yang akan menimpa kita ke arah “fasad genosida”, yakni kerusakan dan perusakan massal sebagai dalih pembunuhan-pembunuhan yang tiada henti.

Jannatul Maiyah Gambang Syafaat edisi 25 Oktober 2017 ini akan mendadar dan menguwur-uwur sembur babagan Satu Mata Membaca dengan segenap entitas-entitasnya. Semoga bermanfaat. (Redaksi-Moh Aniq KHB)

BERBAGI
Redaksi Gambang Syafaat
Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.