blank

Setiap melihat anak saya saat makan sambil nonton tivi, atau ketika belajar sambil gojek dengan adiknya, mendadak terlintas di pikiran saya sebuah istilah ‘Generasi Samben’. Saya tidak tahu apakah perilaku multitasking yang dialami anak saya itu, juga dipraktekkan anak-anak lain. Ketika keluar rumah, di warung, di terminal, di kantor, hampir setiap orang melakukan apa saja, saya mendapati mereka disambi ‘main handphone’. Saya menebak, dari berbagai aktivitas ‘main handphone’, mungkin ada yang WA-nan, BBM-an, FB-an dan segala jenis aplikasi media sosial. Hari-hari ini orang bisa cangkruk di dua majlis sekaligus, majlis muwajahah dan majlis groups media sosial. Wajarlah ada istilah ‘generasi samben’ yang entah muncul begitu saja di pikiran saya.

Bersamaan dengan itu, saya diperkenankan menemani teman-teman di Demak cangkruk. Salah satu obrolannya adalah tentang ritual kanjeng sunan Kalijaga yang Semedi, khusyuk, Istiqomah menjaga tongkat sunan Bonang. Keseriusan, olah diri dan menep, membuat sunan Kalijaga lulus. Saya mencoba melakukan simulasi, apakah anak-anak generasi samben bisa melakukan pekerjaan, ritual, laku sebagaimana yang dilakukan sunan Kalijaga? Tentu yang saya simulasikan bukan sekedar menjaga tongkat dalam artian harfiah, tapi dalam artian yang lebih luas.

Saya khawatir anak-anak generasi samben, yang terbiasa multitasking, ternyata tidak mendapatkan hasil optimal dari seluruh pekerjaan yang dilakukan. Melakukan pekerjaan tidak secara kaffah, tetapi samben. Apakah mungkin fokus, khusyuk, Istiqomah bisa diraih jika dilakukan dengan model yang dilakukan anak-anak generasi samben? Saya teringat nasehat kiai kampung, bahwa arti fastabiqul Khoirot itu bukan berlomba-lomba melakukan pekerjaan sebanyak-banyaknya, tetapi sebaik-baiknya. Berlombalah dalam kebaikan yang tuntas. Selesaikan dulu satu pekerjaan, kemudian setalah itu beralihlah ke pekerjaan lain untuk dirampungkan, begitu seterusnya. “Fa Idza faraghta fanshob”.

Saya tidak sedang menginginkan anak saya menjadi sunan Kalijaga, saya khawatir, ketika ujung dari anak-anak generasi samben adalah hanya menjadi ‘orang yang tahu banyak, tentang sedikit hal’, dan jika kekhawatiran itu terjadi, maka generasi samben menghasilan generasi nanggung.

Anda tidak akan paham maksud tulisan saya, ketika tidak khusyuk membacanya, ketika cuma dibuat samben. Simple bukan?