Diagnosa adalah cara untuk mendeteksi penyebab penyakit. Jika kepala kita pusing, tubuh kita panas dingin, meriang pasti ada yang salah pada tubuh kita. Mungkin ada sumbatan-sumbatan dalam saraf-saraf kita. Atau kandungan darah kita yang tidak beres. Bisa saja lambung kita bermasalah, mulut kita salah mengunyah sesuatu.

Kita mesti mengecek semuanya, cek darah, berapa HB, gula darah. Ini penting! Mengetahui penyakit akan menentukan apa obat yang harus ditelan. Salah diagnosa akan berakibat fatal. Obat jika diminum tidak tepat akan bisa menjadi racun yang justru memperparah penyakit.

Kita mengandaikan Negara yang kita cintai ini sebagai sesosok manusia yang terdiri dari badan atau tubuh dan jiwa atau ruh. Entah jiwanya, entah raganya Negara ini dalam keadaan sakit. Ciri-ciri sakit itu sudah tampak. Mukanya pucat. Gampang marah, banyak beredar berita hoak oleh media resmi apalagi media abal-abal. Beredar meme-meme yang berisi saling cela sesama anggota masyarakat, saling hujat satu sama lain dengan alasan dan dasar yang sama: ‘Cinta NKRI’. Kemudian saling tuding, pihak sanalah yang menjadi sebab sebuah penyakit dan tidak memiliki kemampuan untuk saling rembug duduk bersama menyelesaikan masalah.

Bagian-bagian dari negeri ini bagaikan anak ingusan yang melulu bertengkar. Ada yang bilang setia Si Fulani setia NKRI, yang lain bilang bela si Fulan bela NKRI. Sama-sama mengaku membela NKRI tetapi saling sikut. Siapakah yang berani menjadi orang tua? Atau setidaknya memposisikan sebagai kakak tertua? Tentu saja posisi orang tua yang dewasa diperlukan di dalam situasi seperti sekarang ini. Ketika anak-anak ingusan bertengkar, orang tua tidak berpihak pada salah satunya. Semua diingatkan. Orang tua harus adil. Ia mendengar. Kadang-kadang ia memarahi, kadang-kadang memotivasi. Mungkin salah satu masalah dari sakit kita adalah semua pihak hanya memposisikan diri sebagai anak ingusan yang gemar bertengkar dan tidak bersedia dan tidak lekas dewasa. Yang dipikirkan menangnya sendiri, tidak memikirkan kelangsungan keluarga.

Kita tidak bisa mengelak bahwa Negara kita dalam keadaan sakit. Ciri-cirinya demikian nyata. Berita korupsi tampil setiap hari. Tidakkah kita dapat mengambil pelajaran, VOC yang kokoh menjajah kita ratusan tahun itu hancur karena korupsi. Dan di negeri ini koruptor dapat membangun saung mewah di dalam penjara, plesir kepan saja saat dia mau.

Penjara tempat menghukum para bandar narkoba menjadi tempat untuk mengatur distribusi narkoba. Bacalah tentang sejarah Cina. Dinasti Ching adalah Dinasti yang dikenal makmur. Dinasti ini hancur karena candu. Dari pejabat hingga rakyat hidup dengan ketergantungan dengan candu yang di pasok oleh kerajaan Inggris. Ketika mereka sadar jika candu telah melemahkan kekuatan negara dan akan melakukan aksi bersih-bersih, Kerajaan Inggris marah, dan menekan dengan agresi meliter.

Itu perwujudan penyakit kita dalam bentuk fisik atau badan. Yang lebih parah adalah penyakit jiwa. Maka bangunlah jiwa dulu baru membangun badan. Badan yang sehat bergantung pada jiwa yang sehat. Badan yang kukuh tanpa mental yang kuat hanya akan menjadi permainan belaka. Penyakit jiwa yang kita alami diantaranya adalah minder. Kita merasa lebih rendah dari bangsa lain. Apa-apa yang dimiliki oleh bangsa lain seolah baik dan yang kita miliki buruk adanya. Sikap minder inilah yang mengakibatkan kita tidak memiliki kepercayaan diri mengelola Sumber Daya Alam kita sendiri. Kita adalah garuda yang diengkrami emprit.

2015 lalu, Hery Rajaonarimampianina, Presiden Madagaskar datang ke Indonesia. Setelah bertahun-tahun mempelajari ciri fisik, bahasa, dan budaya, para pemimpin Madagaskar menyakini bahwa tanah asal nenek moyang Bangsa Malagasy bangsa dominan di Madagaskar berasal dari Indonesia. Bangsa kita tersebar di mana-mana ada yang di India, Australia, suku Aborigin, suku asli Australia kepala sukunya masih ada yang menggunakan gelar Daeng, sama seperti gelar di Makassar. Belum lama ini Bangsa Korea yang menghuni di Manchuria mengaku nenek moyangnya adalah berasal dari Nias Sumatera Utara.

Masih juga bertanya kita sakit apa? Jika kita mentadabburi lagi Pancasila, maka tujuan akhir dari apa yang kita inginkan adalah pada sila kelima, ‘Keadian sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Ini adalah capaian ideal yang ingin kita raih. Jika sampai hari ini kita belum pernah berada dalam titik ini maka kita mesti berhitung, mendeteksi, menganalisa, dan mendiagnosa, apa yang salah sihingga keadilan sosial itu belum tercapai?

Mengutip Mbah Nun, dalam tulisannya yang berjudul Daur Pancasila dan Tajjali Tuhan. Kita bisa menganggap ini semacam diagnosa atas penyakit yang sedang diderita bangsa ini. Jika sila kelima keadilan belum tercapai maka kemungkinan ada masalah dengan penyelenggara Negara kita baik itu legeslatif, yudikatif, maupun eksekutif yang terbahasakan dalam sila keempat: “Permusyawaratan dan Perwakilan”. Kemungkinan lain adalah tidak rampungnya sila ketiga “Persatuan Indonesia”, persatuan Indonesia ini adalah tugas ormas, parpol yang pada kenyataannya tidak berpikir tentang kepentingan Bangsa tetapi eker-ekeran mencari penghidupannya sendiri-sendiri. Diagnosa selanjutnya adalah sila kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, pendidikan telah menjadi komoditas, barang dagangan. Dan yang paling gawat adalah kealpaan kita pada sila pertama, “Ketuhanan yang Maha Esa”, Tuhan tidak menjadi ruh dalam seluruh gerak dan pikir pembangunan Indonesia. Tuhan hanya dijadikan pelengkap. Mungkin inilah sumber masalah.

Seorang tokoh, dia pejabat, memiliki banyak pengikut, disanjung, bilang: “Saya katakan, Anda melawan konstitusi di NKRI kalau memilih orang berdasarkan agama”. Dimanakah letak agama di Negara ini jika logikanya begitu. Kemudian kita diingatkan oleh tulisan Mbah Nun Pancasila Oreng Madura. Bagi orang Islam, Pancasila adalah representasi dari Rukun Islam: yang pertama itu syahadat, artinya bersaksi bahwa Tuhan itu Yang Maha Esa. Nomer dua, kita shalat tiap hari lima kali untuk mendidik diri kita agar menjadi manusia yang adil dan beradab. Nomer tiga, organisasi-organisasi masyarakat dan terutama partai-partai politik harus bersatu memberikan seluruh niat baiknya untuk membangun Negara. Parpol-parpol itu kita beri hak untuk menjadi arsitek dibangunnya sistem Negara. Untuk itu mereka harus menjaga Persatuan Indonesia, jangan bersaing untuk kepentingan, jangan menang-menangan satu sama lain, jangan mementingkan golongannya masing-masing untuk berkuasa. Sebab Sila keempat adalah bangunan Negara, milik Rakyat yang dipimpin oleh Permusyawaratan dan Perwakilan. Kalau empat Sila itu tidak terpenuhi, mana mungkin bangsa kita mencapai cita-citanya, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Tentu saja bagi Agama lain Pancasila dapat direpresentasikan sebagaimana ajaran agamanya masing-masing.

W.R. Supratman menggubah lagu Indonesia Raya, “Bagunlah Jiwanya-bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”. Untuk bisa tumbuh kita harus sehat lahir batin. Kita tidak mungkin bisa tumbuh menjadi sebuah Negara yang besar dan terus membesar jika badan dan jiwa bangsa ini masih dihinggapi penyakit. Mari kita diagnosa penyakit kita dan mau untuk sembuh. Gambang Syafaat edisi 25 Februari 2017 kali ini akan belajar tentang “Diagnosa Kelumpuhan” yang dialami oleh bangsa yang kita cintai ini. (Redaksi-MA)

BERBAGI
Redaksi Gambang Syafaat
Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.