Maulid Gambang Syafaat diperingati pada tanggal 25 Desember. Jika dikategorikan berdasarkan usia, 18 tahun bukanlah usia tua, apalagi di posisi kematangan. Usia itu disebut dengan istilah pubertas. Menurut kamus zaman now. Berapa tahun dan sekian tahun janganlah dijadikan ukuran apalagi menuntut harus begini dan begitu. Niatkan menebar kebaikan kapanpun saja tanpa hitungan kalender. Berbagai upaya yang dilakukan Gambang Syafaat, tentunya melalui para pegiatnya telah memberikan asupan-asupan gizi informasi, pengetahuan, dan ilmu setiap momentum sebulan sekali. Perjalanan hingga menapaki tahun ini bukanlah ibarat jalan tol, krikil terkadang muncul dan sedikit demi sedikit tersingkirkan. Hal itu dibuktikan dengan suguhan acara GS yang kontinuitas dan berkualitas. Padahal jika dipikir-dipikir sumber pendaptan tidak pasti. Penjualan kopi, atribut Maiyah, dan kotak keliling bukanlah untuk menghidupi kelancaran GS. Anggap saja itu bagian dari transaksi saling bersedekah satu sama lain. Namun ketiadaan unsur-unsur tersebut, dipastikan GS tetap berjalan. Buktikan. Bismillah. Memang keyakinan dan kemantapan para pegiat GS sudah final. Jalan pasti ditemukan jika diiringi dengan ikhtiar, apalagi upaya demi kebaikan. Ya Fattahu, Ya Rozzaku : Tuhan membukakan jalan, Tuhan pemberi rizki.

Upaya menyenangkan dan menjadi bagian untuk membahagiakan orang lain adalah pilihan tersendiri. Begitulah laku serta kaleidioskop GS dan serba-serbinya. Harlah ke-18 tahun dengan tema Bersedekah untuk Indonesia seakan menunjukkan bahwa begitu dermawannya GS sehingga mampu bersedekah kepada bangsa bernama Indonesia. Apa yang diharapkan GS terhadap Indonesia Selain itu, apa dan siapa GS itu. Sedekah apa yang diberikan di persilangan kesemrawutan keadaan bangsa. Bukankah sedekah itu dilakukan jika kelebihan sesuatu. Terus apa yang dimiliki GS. Materikah ataukah lainnya. Apapun itu bisa disedekahkan dengan syarat keikhlasan. Materi, pengetahuan, kebaikan, dan lainnya yang mengandung kemaslahatan. Dan bersedekah tidak memandang status. Maka bersedekah adalah bagian dari  kemurnian insani, tanpa pamrih. Berbeda dengan zakat karena ada tuntutan untuk mengeluarkan. Namun jangan diperdebatkan tinggi mana antara sedekah dengan zakat.

Muncul pertanyaan, maukah Indonesia disedekahi dan apakah butuh. Apa tidak sebaliknya Indonesia yang bersedekah terhadap seluruh komponen yang masih dalam teritorialnya dari sabang sampai merauke. Bukankah Indonesia kaya. Berbagai program yang ditelurkan pemerintah itu juga disebut sedekah. Adakah juknis bersedekah siapa kepada siapa, apa yang yang harus disedekahkan. Tentunya tidak ada. Siapapun boleh bersedekah tidak harus orang kaya terhadap orang miskin. Orang miskin juga dapat melakukan hal yang sama. Posisi GS dalam hal ini tidaklah berstatus kaya maupun miskin. GS tidak bercita-cita dalam posisi manapun, tetapi substansi demi kemaslahatan menjadi laku dan kepribadian para pegiatnya. Bersedekah untuk Indonesia adalah bukti kecintaan terhadap bangsa dan negara.

Cinta tidaklah harus saling memberi, begitu juga bersedekah tidak harus minta disedekahi. Memberi tanpa syarat itulah cinta. Nah, bukti kecintaan GS terhadap tanah air itu ditunjukkan dengan menggelar sinau bareng tiap bulan terkait beragam persoalan yang menjadi grundelan para Jamaah Maiyah. Gambang Syafaat memberikan ruang untuk siapapun menyampaikan pertanyaan maupun gagasan dan keluhan. Dan sebagai bentuk sedekah terhadap lontaran pertanyaan tersebut, ada respon-respon dengan maksud menjernihkan persoalan.