Mekanisme penciptaan manusia adalah mekanisme pemuliaan. Kemuliaan dihadirkan pada tiap individu manusia untuk saling melihat, mengetahui dan merasakan. Manusia mencipta diri untuk memvisualisasi, mengilmui, merasakan, memuliakan dan mempertimbangkan keputusan-keputusan yang bersumber pada ilahiyyah dan insaniyyah. Dua dasar itu menghidupkan manusia agar tidak terjebak pada pertimbangan materialistik. Tetapi juga turut menghadirkan sifat bebrayan, kebersamaan dan persaudaraan dengan yang tak tampak pula.

Siapakah yang kita pertimbangkan ketika mengambil keputusan? Manusia materialistik hanya mempertimbangkan yang tampak, yang terlihat, dan yang dapat disentuh. Manusia politik mengambil keputusan berdasarkan oleh apa yang dianggapnya berpengaruh bagi dirinya. Manusia materialistik meniadakan yang tidak tampak seperti jin, setan, malaikat, bahkan Tuhan. Makhluk yang tidak terlihat itu hanya dianggap sebagai dongeng masa lalu yang akan punah ditelan zaman. Manusia politik segala hal dipertimbangkan termasuk Tuhan tetapi untuk kepentingan dirinya, untuk membantu dirinya mencapai kekuasaan.

Bagi manusia politik sesuatu yang tampak bisa tidak tampak kalau ia tidak berpengaruh terhadap dirinya. Rakyat miskin, kaum pinggiran bisa tampak jelas saat menjelang pemilu, mereka memiliki suara dan berpengaruh terhadap dirinya. Tetapi saat kekuasaan sudah di tangan, para kaum kecil ini tidak tampak, tidak dianggap ada karena mereka tidak memiliki kekuatan, mereka tidak memiliki pengaruh. Kaum kecil tidak memiliki kekuatan untuk membuat kekuasaan jatuh. Ibadah hanya digunakan sebagai cara menyapa manusia yang tampak bukan Tuhan yang tidak tampak. Akibatnya laku antara gerakan salat dengan gerakan keputusan di pemerintahan tidak selaras.

Islam mengajarkan untuk mempertimbangkan semuanya. Diturunkannya manusia di muka bumi untuk menjadi khalifah. Ia menyapa alam dengan cinta bukan eksploitasi. Kesadaran bahwa penghuni dunia ini bukan hanya manusia. Ada binatang, tumbuhan, dan makhluk-makhluk yang tidak terlihat. Jika alam ini sebuah organisme maka ketika sesuatu terjadi pada satu bagian maka bagian yang lain akan terkena dampaknya. Sebagaimana tubuh ketika kaki terinjak maka mulut teriak dan mata mengeluarkan air mata.

Saat mengambil keputusan tidak egois dan hanya mempertimbangkan dirinya tetapi ewuh pakewuh terhadap alam dan makhluk halus. “Para jin setan itu saat pembangunan di darat diusir disuruh ke laut, sekarang di laut masih juga direklamasi.” Kata Kang Gambang.

Dalam bermasyarakat kita telah berproses dari masyarakat berburu dan meramu, masyarakat agraris, kemudian masyarakat industri. Masyarakat berburu dan meramu tidak memiliki konsep menyimpan. Ia hanya mengambil dari alam sebatas kebutuhan konsumsinya. Setelah kebutuhannya terpenuhi dia berhenti dan baru mencari lagi nanti saat membutuhkan. Dalam masyarakat berburu dan meramu tidak ada kepemilikkan lahan. Lahan dimiliki secara komunal. Jikapun ada sebuah lahan pangan boleh digunakan secara bersama atas izin pemiliknya. Sisa-sisa konsep masyarakat berburu dan meramu ini masih dijalankan di desa-desa. Di sana terdapat sistem ramban, kita boleh memetik sayuran di lahan tetangga kita seijin pemiliknya.

Dalam masyarakat berburu dan meramu ini memiliki kearifan karena mempertimbangkan makhluk lain. Mereka percaya terhadap yang tidak terlihat. Mereka membatasi diri, mereka membuat aturan dan pantangan-pantangan yang secara logika kadang tidak masuk akal. Pantangan dan batasan yang mereka buat itu atas pertimbangan alam terlihat dan tidak terlihat. Hidup dengan konsep berburu dan meramu ini maka akan hidup selaras dan pangan juga akan terjaga karena batasan yang telah disepakati. Batasannya misalnya, tidak boleh mengambil binatang yang sedang bunting, tidak boleh menangkap lebih dari dua ekor dalam satu bulan, adalah cara menjaga ketersediaan pangan untuk anak turun.

Kemudian berlanjut pada masyarakat agraris. Masyarakat agraris adalah masyarakat menanam. Ia tidak hanya nyadhong pada alam tetapi menanam untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Terdapat kreatifitas di sana, juga ada konsep menyimpan dalam bertani.

Kebutuhan manusia bertambah tidak hanya pangan tetapi juga papan, dan sandang. Muncul gaya, dan gengsi. Muncul konsep kaya dan miskin. Di dunia ini tidak semua memproduksi pangan maka bertani menjadi industri. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan diri petani tetapi untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Masyarakat industri adalah masyarakat eksploitasi produk dari manusia materialistik. Jika masyarakat berburu dan meramu tidak memiliki konsep menyimpan, jenis masyarakat ini adalah berusaha menyimpan, memiliki harta benda sebanyak-banyaknya. Ia tidak mempertimbangkan yang tidak terlihat, yang menghalangi saja berusaha disingkirkan.

Maiyah mengajarkan metode berpikir lingkaran. Metode berpikir lingkaran yaitu berpijak pada hari ini; meninjau pada masa lalu untuk memprediksi masa depan. “Kamu kok nakalnya minta ampun (masa kini), besok kamu mau jadi apa (masa depan), padahal bapakmu dulu orang rajin (masa lalu). Kita bisa terapkan pola berpikir itu untuk melihat Indonesia. Indonesia dulu kaya, indah, orang-orangnya ramah. Sekarang kok banyak yang mencuri, dan galak, besok mau jadi apa. Apa karena masa lalu dan masa depan tidak tampak hingga tidak menjadi pertimbangan mengambil keputusan?

Gambang Syafaat edisi 25 November 2017 kali ini mengangkat tema ‘Budidaya Bebrayan Agung’, tema ini muncul atas kesadaran bahwa saudara kita tidak hanya yang tampak tetapi juga yang tidak tampak dan perlu kita agungkan bebrayanan. (Red)

BERBAGI
Redaksi Gambang Syafaat
Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.