blank

Malam itu (25/11) panggung Gambang Syafaat (GS) terlihat penuh dari ujung timur sampai barat. Penuh bukan padat jamaah merapat dengan para pembicara seperti biasanya, tapi penuh dengan kelengkapan pertunjukan wayang kulit dari Kidung Syafaat (KS) Salatiga. Di sebelah kanan ada pelog, suling, kendang dan darbuka; sebelah kiri ada drum, guitar, bass, keyboad, bonang; tengah dipenuhi geber (kelir) berikut wayang kulit berjejer rapi di atas gedebog pisang beserta kotak berisi wayang yang akan dilakonkan. Bukan cuma itu saja, jamaah GS juga dimanjakan dengan tenda peneduh tak sebagaimana biasanya berpayung langit. Dan benar saja jamaah lebih memilih di bawah tenda menikmati fokus yang pas keindahan panggung.

Acara GS dimulai lebih malam dari umumnya, karena tentu butuh waktu lebih untuk menata panggung sepenuh itu beserta sound sistemnya. Acara dimulai langsung munajat maiyah tanpa darus Alquran. Kang Jion yang memimpin munajat meminta ditemani jamaah karena terasa ‘gotang’ tak ada satu pun jamaah yang merapat diatas panggung.

Selepas munajat, tanpa menunggu lama Kang Jion langsung menyerahkan mic kepada Kang Hajir untuk mandegani diskusi sekaligus ‘sembur uwuruwur’ menjabarkan tema “Budidaya Bebrayan Agung”. Kang Hajir membuka diskusi dengan klasifikasi manusia membuat pertimbangan dalam mengambil keputusan. Pertama kang Hajir menyebut manusia politik itu mengambil keputusan berdasarkan untung-rugi (bagi dirinya), kemudian manusia materialistik itu mengambil keputusan berdasarkan yang terlihat saja, yang tidak nampak diabaikan, padahal menurut Kang Hajir yang hidup di dunia ini tidak hanya manusia, ada setan, jin, tumbuhan dan sebagainya yang sering kali kita tidak pertimbangkan suaranya.

Kemudian Kang Hajir menyebut masa depan dan masa lalu yang sering tidak dipertimbangkan, misalnya penggunaan sumberdaya alam. Berdasarkan itu ada klasifikasi masyarakat dalam mengelola alam. Pertama masyarakat berburu dan meramu, masyarakat ini mengambil dari alam tetapi tidak memiliki konsep menyimpan, namun masyarakat ini memiliki kebijakan dan aturan ketat dalam mengambil dari alam untuk menjaga stabilitas pangan di masyarakat. Kedua masyarakat bertani, masyarakat ini menanam untuk memenuhi kebutuhan. Lalu ada masyarakat industri, masyarakat ini melakukan eksploitasi karena budaya materialistis, globalisasi dsb; yang ingin menguasai segalanya dan selalu merasa kurang atas karunia Allah, sehingga muncul ketimpangan sosial: ada yang kaya dengan rumah ratusan – ada yang tidak memiliki tempat untuk sekedar tidur, ada yang sekali makan satu porsi dengan harga ratusan ribu – ada yang tidak bisa makan.

Maksud dari tema “Budidaya Bebrayan Agung” adalah memelihara persaudaraan agung, agung dalam arti memperhatikan semuanya, tidak hanya memperhatikan diri sendiri atau manusia saja tapi jauh lebih luas. Gus Aniq menyambung andum kemesraan pembahasan tema dengan mengungkap bahwa tema kali ini menjadi fundamentasi bahwa kita harus menciptakan kesadaran bahwa kita adalah manusia. Dalam bahasa jawa disebut menungsa (manunggale ing kuwasa). Maka konsep dasar yang dialami manusia itu sendiri adalah mekanisme pemulyaan. Allah menciptakan menusia (bani adam) itu diawali dengan mekanisme pencitaan kemulyaan. Selanjutnya diteruskan dengan kemanusiaannya, mulai dari proses kemanusiaan kepada Tuhan, kemudian kemanusiaan kepada sesama manusia itu sendiri.

Selanjutnya setelah pemulyaan, disisi lain gus Aniq menyambung dengan QS Ali Imran : 103, ini adalah proses bahwa manusia ada ketergantungan dengan manusia yang lain. Ini yang disebut bebrayan, mengagungkan bebrayan, memBudidayakan bebrayan.

Gus Aniq menarik tema bebrayan dengan masalah infaq. Infaq adalah suatu perlakuan dimana seseorang tidak menyimpan kekayaan atau aset yang berlebihan. Infaq berbeda dengan shodaqoh, dimana dalam infaq itu sudah ada shodaqoh. Kalau shodaqoh adalah memberi, titik, tanpa harapan apapun, adapun ada kembalinya itu urusan Allah. Sedangkan itu infaq seperti membelanjakan sesuatu dengan syarat transaksinya baik (mabrur) dalam rangka memutar perekonomian. Maka hukum sosial yang sehat bisa dimulai dengan infaq.

Gus Aniq melompat pembahasan tema dengan mengulang dan menambahkan pembahasan tema bulan lalu. Bahwa, Iblis menjelma kedalam beberapa sistem. Pertama, Iblis menjelma sebagai Firuan. Firaun adalah simbol kekuasaan, adigdayan, ingin menjadi Tuhan. Kedua, Iblis menjelma sebagai Qorun, simbol kapitalisme. Bersamaan itu ada Haman dan Bal’am, orang alim yang terperdaya dengan sistem kapitalisme. Ketiga, Iblis menjelma sebagai Dajjal, simbol materialisme, sistem manipulatif, melihat sesuatu dengan satu mata. Keempat, Iblis menjelma sebagai Ya’juj Ma’juj, simbol perusak, aktifis penyusun strategi dan penggerak yang sifatnya perusak untuk meghancurkan peradaban (genosida). Kelima, adalah sistem ke’AbuJahal’an, sistem pembodohan, kita dihilangkan kesadaran untuk tidak pandai secara akal dan hati.

Gus Aniq menyudahi pengantarnya langsung disambut Kang Hajir memberi sedikit komentar dan dibelakangnya sudah siap Babahe dengan grup musik “Jawingsun” yang dicangkingannya. Jawingsun yang aslinya biasa memainkan musik metal bernada diatonis kali ini memaksa lagu “Kidung Singgah Kolo Singgah” karya pangkur Sunan Kalijogo yang bernada pelog atau pentatonis untuk serasa diatonis. Gruop metal yang njawani. Lagu berikutnya satu nomor dari Jawingsun membawakan “Banyu Geni”. (Redaksi – Arif Luqman Kastury)