Ketika orang mendengar kata maiyah, sepertinya sudah tak asing selama berrahun-tahun. Namun tidak bagi seorang aku, maiyah mulai masuk ke dalam lubang telinga sekitar lima tahun silam saat masih berseragam putih abu-abu.

Mengenal gambang pun belum ada beberapa detik hitungan akhirat. Aku seolah-olah terjerumus dalam kebenaran. Gambang syafaat menjadi lingkaran maiyah yang diikuti munculnya benih-benih lingkaran maiyah di kota disekitarnya. Mulai dari Rembang, Blora, Pati, Kudus, Jepara, Demak, Ungaran , Kendal, Batang, Pekalongan, Tegal, Pemalang, Brebes dan lainnya. Maksud saya, secara urutan kemunculan, gambang syafaat lebih dulu.

Zaman sekarang, pengajian Maiyah bukan lagi sebuah hal yang baru di telinga orang awam. Namun makna maiyah sendiri tidak banyak diketahui oleh jamaah. Jika disangkut pautkan secara audio /pelafalan, maiyah ini sepertinya berasal dari kata dasar “ma’un” yang berarti air ketambahan ya’ nisbatiyyah. Ini artinya pengajian maiyah menjadi alternatif untuk mengetahui dasar kehidupan manusia bahwa manusia berasal dari air mani. Atau bisa juga air sebagai penghilang dahaga.

Selain itu, jika kita telisik lebih dalam lagi kata maiyah hampir mirip dengan kata dasar “ma’a” yang ditambahi ya’ nisbatiyyah. Melihat arti dari ma’a yakni bersama, ini berarti pengajian maiyah menjadi cara untuk merasakan sebuah arti kebersamaan. Bersama untuk memecahkan masalah, bersama untuk menghindari perpecahan, bersama demi kebersamaan. Kebersamaan ini jelas menjadi simbol dari pada kehidupan yang guyub rukun.

Gambang syafaat setiap perpindahan waktu selalu membuat tema pembahasan tentang persoalan yang menjadi dasar hidup manusia. Kebebasan mengungkapkan pemikiran, pendapat sangat terbuka bagi siapapun saja. Dan tentunya narasumber dan jamaah ikut berkontribusi memberi alternatif sudut pandang. Presepsi yang salah tidak langsung dihakimi hukumnya namun lebih ditekan untuk dicerna logika bahwa itu salah, dirangkul tidak dipukul.

Usia gambang syafaat sudah mencapai remaja, yakni 18 tahun. Usia yang terbilang menginjak dewasa butuh bimbingan supaya karakter diri tertata rapi dalam sanubarinya. Kebebasan berfikir digunakan untuk menemukan titik kesimpulan masalah bukan malah bertengkar atau ngotot.

Gambang syafaat menjadi orbit maiyah di kota kota terdekat. Untuk itu harus bisa menjadi percontohan yang luar biasa kedepannya.

Maiyah seolah-olah bisa terdengar menjadi makiyah, tempat dimana wahyu-wahyu Allah diturunkan. Surat makiyah dalam kitab suci lebih mengarah pada ketauhidan, menggunakan bahasa yang penuh syair keindahan guna mengislamkan para kafir quraisy, disana juga menyampaikan tentang hari kiamat, surga dan neraka. Cara Allah melalui surat makkiyah itu diadopsi oleh pegiat maiyah untuk berusaha bertauhid dengan baik
, mengislamkan mereka yang berfikiran salah dengan gurauan candaan dan syair-syair keindahan untuk memikat hati para pemerhati. Gambang syafaat menjadi wadah maiyah diharapkan akan mengadopsi bagian daripada surat makiyah.

BERBAGI
Usthur R.
Sedulur Maiyah Kudus. Pakar Ngawurologika.