‘Amul Huzni -tahun kemurungan. Peristiwa ketika Nabi Muhammad kehilangan istrinya Khadijah dan pamannya Abu Thalib dalam waktu berdekatan. Nabi mengalami kemurungan atas peristiwa itu, kehilangan dua orang tersayang dan menyayanginya. Kita tahu, Khadijah perempuan dan manusia awal beriman atas kenabiannya, membantunya dalam berdakwah. Demikian juga dengan Abu Thalib, paman pembelanya, pelindungnya atas serangan penduduk Makkah yang tidak sepaham dengan pesan kenabian Muhammad.

Dalam Bahasa Arab, huzni muncul sebagai huzn dalam dua ayat dan hazn dalam tiga ayat. ‘Amul Huzni adalah sebuah peristiwa kehilangan spiritual. Kemudian ‘Amul Huzni digunakan untuk menandai segala peristiwa kemurungan yang terjadi pada ummat Islam. Saat Nabi Muhammad mangkat juga merupakan peristiwa kemurungan bagi ummat Islam.

Namun ada arti lain dari huzni. Meminjam pengkategorian Orhan Pamuk dalam Memornya Istanbul, mengartikan huzni dalam dua definisi. Pertama huzni karena kita terlalu menikmati dan mengumpulkan harta benda. Jika kita terlalu terlibat dan merasa memiliki dunia maka kita akan merasa kehilangan. Jika kita tidak terlalu terlibat dalam urusan dunia maka kita tidak terlalu peduli ketika kita kehilangan.

Pengetian huzni yang kedua adalah sebuah peristiwa di mana merasakan penderitaan amat mendalam karena tidak bisa cukup dekat dengan Allah, kurang banyak melakukan amalan untuk Allah.

Difinisi manakah yang akan kita gunakan untuk memandang negeri Indonesia kita ini. Apakah kita murung karena terlalu tergila-gila terhadap dunia sehinga cemas saat kehilangan? Sebagian penyakit huzni semacam ini mungkin dihinggapi oleh sebagian dari kita. Konsentrasi berlebihan dalam mengumpulkan harta dunia itu mengakibatkan gelap mata srobot sana-sini sehingga tidak mempedulikan hak saudaranya. Manusia jenis ini menganggap harta benda sebagai tujuan akhir. Kesedihan atau kemurungan (huzni) paling mendalam bagi manusia jenis ini adalah terenggutnya harta benda dari tangannya.

Namun, sebagian kita juga mengalami huzni kedua. Kemurungan karena merasa tidak dekat dengan Allah. Istilah jawanya getun, gelo. Huzni jenis ini membantu seseorang untuk kembali kepada Allah. Mereka selalu berharap-harap bisa bertemu Kanjeng Nabi, mencari cara untuk ke jalan Allah. Mereka melakukkan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Kedua huzni tersebut merupakan kemurungan bersifat individual. Kita sekarang ini sedang mengalami huzni bersifat komunal. Kemurungan dialami bersama-sama. Sedih melihat korupsi tidak berkesudahan dilakukan pengurus negeri ini. Sedih karena pengurus negeri ini berlagak menjadi penguasa. Membagi-bagikan harta Negara dengan label ‘bantuan’.

Murung karena yang harusnya mengurus malah merampok, memalak, ngrusuhi. Sedih karena yang dipercaya nyunggi wakul malah gembelengan. Mungkin dengan kesedihan pula saudara-saudara kita harus menyeberang lautan meninggalkan anak sedang lucu-lucunya, anak sedang kangen gendongannya. Ia meninggalkan orang tua yang disayanginya, istri atau suaminya yang selalu menantinya. Mereka bekerja ke luar negeri karena di negerinya sendiri tidak tersedia lapangan pekerjaan. Pun ketika sudah bekerja, gajinya dipotong dengan bengis. Salahkah jika mereka marah, murung, kemudian menyimpan dendam kepada yang mengurusi negeri?

Kemurungan bisa diibaratkan kegelapan dan kegembiraan adalah kecerahan. Gelap dan terang adalah makhluk Allah, yang keduanya dibutuhkan sesuai situasi dan kondisi masing-masing. Saat gelap terjadi secara naluriah manusia mencari sisi terang. Jadi gelap dibutuhkan untuk tumbuhnya kesadaran akan terang. Dan kita tidak boleh putus asa karena kita punya Islam. Islam yang tidak hanya sebagai identitas tetapi menyeluruh; menjiawi, menjadi ruh, langkah, dan strategi.

Gambang Syafaat edisi Maret 2017, mencoba menyelami fenomena kemurungan yang dialami  sebagian masyarakat, baik ekspresi individu maupun gejala sosialnya. (Redaksi-MA)

BERBAGI
Redaksi Gambang Syafaat
Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.